Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Saya telah menemukan orang yang telah meninggalkan palu itu di halaman. Orang itu adalah … saya!”
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)
…
Tulisan reflektif ini diturunkan, karena saya terinspirasi oleh sebuah buku spiritual karya Ajahn Brahm, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.
Dari Sepotong Palu Karat Tergeletak
Riil pula, bahwa semua manusia, kapan dan di mana saja, pernah melakukan kesalahan. Sang arifin pernah berujar, bahwa “Hidup adalah pembelajaran untuk terus mengurangi kesalahan.”
Kisah spesifik ini terjadi di sebuah Wihara yang bertolak dari rasa kecewa Pemimpin Wihara, karena dia menemukan sebuah palu hingga berkarat tergelak di halaman Wihara.
Ketika suatu hari saya berjalan di halaman Wihara, saya menemukan sebuah palu tergeletak di halaman Wihara. Palu itu jelas sudah cukup lama berada di sana, kelihatan dari karatnya. Saya sangat kecewa dengan kecerobohan rekan-rekan biksu saya. Segala yang kami gunakan di Wihara, mulai dari jubah kami sampai peralatan, adalah sumbangan dari para penyokong kami yang telah bekerja keras.
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangan)
Pertemuan Darurat Para Biksu
Menyaksikan sepotong palu hingga berkarat di halaman Wihara, saya yang biasa dijuluki sebagai pribadi ‘selembut kacang polong’, tapi malam itu saya jadi segalak ‘cabe Thai’.
Saya memohon para Biksu agar berani serta jujur mengakui, jika ternyata dia lupa mengembalikan palu karat itu pada tempatnya.
Ternyata tak seorang pun yang mengakuinya. Saat itu, saya berlangkah dari ruang pertemuan ke halaman Wihara demi menyamankan keadaan dan suasana pertemuan kami.
Di saat saya berada di halaman, kini sadarlah saya, bahwa ternyata sayalah si ceroboh itu. Karena saya teringat, bahwa di suatu waktu, saya pernah menggunakan palu itu di halaman Wihara.
Dengan gontai saya kembali memasuki ruangan pertemuan sambil berucap, “Para Biksu, saya telah menemukan orang yang telah meninggalkan palu itu di halaman. Orang itu adalah … saya! Sayalah si penceroboh itu!”
Si Penceroboh yang Tahu dan Sadar Diri
Apa pandangan dan pendapat Anda, setelah mencermati dengan saksama kisah unik ini?
Di satu sisi, walaupun dalam kebisuan kata, ternyata betapa jujurnya para Biksu itu. Mereka tidak mau menjawab atau bersikap atas pertanyaan sang Pemimpin Wihara, karena nyata bahwa tak seorang yang telah melakukannya, bukan?
Di sisi lain, marilah kita mengacungi jempol buat sang Pemimpin Wihara yang berhati jujur, tulus, dan rendah hati itu.
Dari balik konteks peristiwa ini, ada amanat terselubung, bahwa sekalipun kita telah melakukan suatu kesalahan yang tanpa disengaja, maka sejatinya kita tidak melakukan kesalahan itu.
Kisah unik ini berakhir justru, karena adanya sebuah ‘ingatan yang mampu menyadarkan’ sang Pemimpin Wihar, bahwa ternyata dialah yang melupakan palu itu di halaman Wihara.
“Oh, kecerobohan yang membahagiakan!”
…
Kediri, 21 September 2024

