Apa yang pertama kali terlintas di benak kita, ketika berada di terminal?
Ramai
Naik turun penumpang
Keluar masuk kendaraan
Suara pengeras yang ditingkahi klakson, bersahutan
Berisik
Itulah terminal,
potret hidup kita sendiri
Diakui atau tidak
Disadari atau tidak
Kita tengah berada di terminal peziarahan
Dengan seabreg hiruk pikuk, aktivitas, dan kepura-puraan
Ibaratnya, kita tengah menunggu mobil jemputan untuk pulang ke rumah Allah
Apa peran kita?
Sebagai calo, pekerja sibuk, pedagang, penjual jamu, penonton keramaian, tukang koran, pengatur lalu lintas, atau sekadar numpang tidur
Terkesan tidak peduli
Cenderung asyik sendiri
Egois
Banyak yang hilang empati
Mereka cuwek melihat orang keberatan membawa beban, pengemis kelaparan, atau lebih senang menonton pencopet yang diadili, ketika tertangkap
Terminal
Pusat keramaian
Hiruk pikuk yang menjemukan, membosankan, atau berasa nglangut bagi orang yang lama menunggu pulang tanpa ada kejelasan
Kapan mobil jemputan datang?
Hidup sekadar menunggu itu konyol
Gerogoti jiwa
Sodori stres!
Padahal hidup itu berdenyut
Bergerak
Tumbuhkan harapan, iman, dan kasih
Optimistis
Lebih asyik itu berkreativitas sambil berkreasi
Dimaknai
Disyukuri
Dinikmati
Maaf!
Jangan bilang hidup itu sekadar mampir ngombe
Mendingan kita makan dulu
Lalu ngupi sambil udutan.
Hidup itu nyamleng.
…
Mas Redjo

