Red-Joss.com – Jalan pengabdian tiap orang untuk mengikuti Tuhan tidak selalu mulus, sebab niatan luhur itu terbungkus oleh raga dan rasa yang tidak luhur, yang dalam banyak kali tersandung oleh aneka keperluan raga dan rasa itu, sehingga muncullah rasa ‘owel’.
Rasa ‘owel’ pernah singgah juga dalam raga dan rasa Sesembahan kita, di saat beliau mengalami gundah yang tak tertahankan di taman Getsemani: “Bapa, jikalau mungkin biarlah piala ini lalu dari pada-ku, tapi kehendak-Mulah yang terjadi”.
‘Owel’ adalah kata bahasa Jawa yang menggambarkan suasana hati seseorang yang tidak sepenuhnya rela untuk melakukan sesuatu. Ada pergulatan antara melepas dan mempertahankan. “Pilihan yang diambil orang itu menunjuk siapa dirinya”.
Ketika pagi ini rasa kantuk masih menggelayut dan rasa butuh tidur masih begitu saya inginkan, saya memilih untuk bangun dan berlutut , berdialog dengan Tuhan, untuk mendapatkan petunjuk, apa yang harus saya tulis pagi ini. Ada rasa ‘owel’ di hati, tapi saya memilih untuk tetap berlutut dihadirat-Nya.
Ketika di satu minggu pagi kantong kolekte beredar di depan tempat duduk saya, ada timbang rasa “akankah satu-satunya lembaran uang di sakuku ini akan kulepas?” Ada rasa ‘owel’ di hati, sebab kalau kulepas berarti yang hari ini kubutuhkan tidak terpenuhi alias ditunda, tapi saya memilih untuk melepasnya.
Ketika saya merasa “Salam Pagi” yang kutulis tiap pagi ini tidak banyak lagi dibaca, muncul rasa ‘owel’ untuk meneruskannya. Akan tetapi saya memilih untuk terus menulis dan mengirim salam ini kepada semua sahabat.
Ya Tuhan, bimbinglah saya hari ini untuk terus memilih melakukan kehendak-Mu, walaupun ada rasa ‘owel’ di hati.
Walau berat tetaplah memilih dipihak-Nya.
…
Jlitheng

