“Hidup adalah ungkapan terima kasih. Anugerah yang kita terima dari Tuhan itu untuk dikasihkan kepada sesama.” -Mas Redjo
…
Sejatinya, anugerah Tuhan itu untuk diteruskan pada sesama, jika untuk diri sendiri itu egois. Hidup yang tidak disyukuri sebagai ungkapan terima kasih itu tiada guna dan sia-sia.
Karena menerima, kita memberi. Itulah hukum keselarasan hidup sejati.
Coba rasakan, renungkan, dan resapi. Ketika anugerah Tuhan tidak diteruskan, dibagikan pada sesama, tapi untuk diri sendiri.
Apakah anugerah-Nya makin bertambah dan berkelimpahan? Tidak!
Apakah membuat kita jadi makin hebat dan kaya? Juga: tidak!
Sebaliknya anugerah Tuhan yang tidak diteruskan dan dibagikan pada sesama itu membuat hidup ini jadi monoton, datar, dan hambar.
Jika boleh diibaratkan hati ini sebagai rumah. Apa jadinya rumah yang terus dijejali untuk menimbun dan menyimpan barang yang tidak digunakan?
Rumah kita dipastikan kian sumpek, gelap, berdebu, dan ngap! Bahkan untuk bernafas pun kita jadi susah, dan sakit.
Begitu pula, ketika kita dipercaya sahabat, Bos, atau orangtua itu jangan dikecewakan. Apalagi untuk dimanfaatkan demi kepentingan, keuntungan, dan perkaya diri. Kita makin tidak tahu diri dan berterima kasih.
Terlebih lagi, jika mengecewakan Tuhan. Apa yang terjadi, ketika hidup ini kehilangan rasa bersyukur dan terima kasih pada Tuhan, Sang Pemberi? Hidup serasa berbeban berat dan menderita.
Berbeda hasilnya dan perasaan hati ini, jika anugerah Tuhan yang diterima itu untuk kita teruskan, dikasihkan pada sesama.
Coba perhatikan dan amati yang terjadi, ketika seorang itu diberi. Tidak harus berupa materi, bisa juga lewat perhatian, tenaga, ide pikiran, dan hal sederhana lainnya. Tapi dilakukan dengan cinta yang besar. Mereka bahagia!
Jika pemberian itu tidak ditanggapi, diremehkan, atau dianggap sebagai pencitraan, ya, kita jangan berkecil hati, kecewa, atau mutung.
Kita memberi ikhlas hati itu tanpa sekat, prasangka, atau berhitung dagang yang didasari untung-rugi. Kita memberi, karena meneruskan saluran berkat Tuhan.
Orang yang egois dan pelit itu hidup selalu merasa kurang. Sebaliknya orang yang murah hati itu makin berkelimpahan belas kasih Tuhan, dan bahagia.
…
Mas Redjo

