Orang katakan, “dosa itu mengenakan di awal, tapi selalu menghancurkan di akhir.” Contoh: orang yang minum sampai mabuk, atau para koruptor, juga dalam peristiwa pembunuhan. Pada awalnya orang tergoda untuk merasa puas dan menikmatinya, tapi akhir cerita selalu memilukan dan menyengsarakan.
Apa yang Petrus katakan, ketika menyaksikan peristiwa transfigurasi pun demikian, “Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Mark 9: 5). Yesus tidak memenuhi permintaan Petrus, bahkan mengajak mereka untuk turun dari gunung itu, meninggalkan kesenangan sesaat itu demi melakukan rutinas mereka setiap hari.
Terinspirasi oleh Firman Tuhan, kita berefleksi:
- 1) Apakah yang relasi yang kujalani, tugas yang kukerjakan dan rasa yang kualami saat adalah kesenangan dan kenikmatan semu nan sesaat?
- 2) Apakah aku selalu tergoda, bila ada tawaran dan kesempatan untuk korupsi, berlaku tidak adil dan jujur dalam relasi, tugas dan pekerjaanku saat ini?
- 3) Apakah aku berani meninggalkan kesenangan dan kenikmatan sesaat serta melakukan pertobatan dan perubahan hidup?
Ingat, lebih bahagia itu mensyukuri yang jadi hak kita daripada merampas hak orang lain dan menikmatinya dalam rentang waktu sesaat saja.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

