“Selamanya aku akan menyanyikan kebaikan Tuhan.”
Pada ambang Natal yang kudus ini, Firman Allah mengajak kita untuk beristirahat dalam misteri kesetiaan-Nya. Melalui Daud, Allah menjanjikan sebuah Kerajaan yang ditegakkan untuk selama-lamanya: bukan oleh kekuatan manusia, melainkan oleh kasih setia-Nya. Allah memilih bukan rumah batu, melainkan janji yang hidup: “Aku akan jadi Bapa baginya, dan ia akan jadi anak bagi-Ku.”
Janji Allah bergema dalam doa Zakharia: Benediktus, sebuah nyanyian yang lahir dari keheningan panjang dan harapan yang terpenuhi. Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah Israel, karena Engkau telah mengunjungi dan menebus umat-Mu. Apa yang Engkau janjikan dalam perjanjian, kini mulai Engkau nyatakan dalam daging dan darah.
Dalam Mazmur, kita menyatakan dengan penuh keyakinan: “Aku akan menyanyikan belas kasihan-Mu selama-lamanya.” Belas kasihan-Mu tidak sementara; itu dibangun untuk bertahan lama, kokoh seperti langit. Ketika hati kita lelah dan dunia terasa tidak stabil, Engkau mengingatkan kita, bahwa belas kasihan-Mu tetap teguh, dari generasi ke generasi.
Zakharia memandang anaknya, Yohanes, dan melihat lebih dari sekadar seorang putra. Ia melihat seorang Nabi yang dibentuk dalam rencana-Nya. Yohanes akan mendahului Tuhan, mempersiapkan jalan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kerendahan hati; bukan dengan menarik perhatian pada dirinya sendiri, melainkan dengan menunjuk kepada Yang Lain. Ia adalah suara sebelum Firman, pelita sebelum Terang.
Sekarang, ya, Bapa, Pewaris Daud yang sejati ada di ambang pintu. Raja yang kekal memasuki bukan istana, tapi kemanusiaan kita yang rapuh. Fajar dari atas akan segera menyingsing atas kita: lembut, penuh belas kasihan, dan pasti. Terang ini tidak menghukum kegelapan kita, tapi menyembuhkannya. Ia tidak menenggelamkan yang lemah, tapi membimbing langkah mereka ke jalan damai.
Pada hari terakhir Adven ini, kami mempersembahkan kepada-Mu hati kami yang lelah, ketakutan kami yang tersembunyi, kerinduan kami yang tak terucapkan. Dalam belas kasih-Mu, berikanlah kami penghiburan. Dalam kedatangan Yesus, berikanlah kami kelegaan. Biarlah kasih perjanjian-Mu meyakinkan kami, bahwa kami tidak dilupakan, ditinggalkan, dan tidak sendirian.
Kami berdoa untuk semua yang masih berjalan dalam bayang-bayang. Mereka yang dibebani oleh kesedihan, perpecahan, dosa, atau keputusasaan. Semoga Terang yang terbit malam ini menemukan mereka, menghangatkan, dan menuntun mereka pulang. Semoga kita, seperti Yohanes, belajar untuk memberi tempat bagi Kristus, bersukacita hanya untuk mempersiapkan jalan-Nya.
Melalui Kristus Tuhan kita. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

