Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku tidak bertangan lagi, kecuali tanganmu.”
(Kalimat Filosofis)
…
| Red-Joss.com | Mungkin kita masih ingat akan sebuah kisah bermakna di dalam Perang Dunia II di negeri Jerman.
Seusai perang, beberapa orang tentara Amerika memasuki sebuah kota. Di sana, mereka menemukan reruntuhan bangunan sebuah gereja.
Sungguh terperanjat dan terharu hati mereka, saat memandang sebuah arca Kristus yang juga turut remuk berantakan.
Para serdadu itu mulai mengumpulkan serpihan pecahan arca itu dan berusaha membenahinya kembali.
Ternyata mereka cukup berhasil. Karena kini, berdirilah kembali patung itu, walaupun tanpa tangan.
Melihat kondisi arca buntung itu, seorang tentara pun menuliskan seuntai kalimat, “Aku sudah tidak bertangan lagi, tanganmu, itulah tangan-Ku juga!”
Kini kita akan merefleksikan hal keunikan dan makna tangan. Organ vital dari tubuh manusia.
Ada seribu satu macam misteri dan makna dari keunikan tangan manusia.
Mari, renungkan!
Apa fungsi dan makna dari: tangan sang wartawan? Atau pada lembutnya, jemari tangan sang perawat? Juga pada tangan kuasa sang raja dan ratu? Atau pada uluran tangan para pengemis papa?
Ingatlah, pada tangkai tangan yang melambai, bermakna pisah.
Pada dua telapak tangan, simbol pengabdian.
Tangan erat mengatub, tanda hormat atau sesal dan tobat.
Jempolan tangan, isyarat pujian.
Tangan yang dilipat, isyarat masa bodoh.
Cuci tangan atau lepas tangan, yang bermakna tidak mau bertanggung jawab.
Lewat refleksi ini, ternyata, Tuhan, Sang Maha Sempurna pun masih membutuhkan uluran tangan sang manusia dina papa.
Karena tangan Tuhan, secara simbolis, juga ada di dalam tangan kita manusia.
Jadi, tangan-tanganmu itu pun, menyimbolkan: kuasa, kharisma, dan wibawamu.
…
Kediri,ย 24ย Januariย 2024

