Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kehidupan adalah adegan permainan tentang sebuah realitas yang dilukiskan di atas kenyataan.”(Didaktika Hidup Sejati)
…
Tulisan refleksi dan inspiratif ini, saya persembahkan kepada manusia yang letih lesu jiwa raganya, selaku musafir gurun kehidupan.
Sang Musafir Gurun
Kehidupan ini adalah sebuah realitas tentang suka cita dan duka nestapa para cucu cicit sang Adam. Mereka selaku musafir gurun nan fana papa.
Makna sebuah Ziarah
Kehidupan ini adalah juga sebuah ziarah panjang, ibarat musafir yang tekun berkelana di atas bentangan gurun panas membara.
Di sana, tak jarang ia kehausan dan kelaparan. Ia tidak cuma butuh seketus roti berupa butiran-butiran mana dan air wadas pemuas dahaga, tapi juga cinta dan kasih sayang.
Ia terus Berlangkah
Dengan sambil tetap setia perpegang dan bersandar mesra pada sebatang tongkat penyangga, ia terus akan melangkah demi melalang buana.
Dengan mata dan kesadaran telanjang transparan, ia terus berusaha untuk memaknai arti dari setiap derap langkahnya.
Sambil sesekali bergumam, ia bertanya, ‘masih berapa jauhkah jarak yang harus kutempuh?’ Di mana tempat akan aku labuhkan lesu tubuh dan jiwa merana ini?
Sesungguhnya tidak akan ada sahutan atas tanyanya itu. Alam seisinya seolah membungkam seribu bahasa.
Kini, musafir gurun itu masih terus melangkah, entah hingga kapan.
Kini, dari dan di kejauhan sana, tampak seolah-olah ada permainan berupa guratan gambar alam fatamorgana yang tampak seperti meliuk menari dalam mata sadarnya.
“Ah, aku tidak sedang bermimpi, itu permainan alam nyata, hembusan hempasan pasir gurun yang riuh dipermainkan angin panas gurun ini,” guman sunyi dukanya.
Kini, dari kejauhan tampak kemerahan lembut menawan, ke kaki sang lelangit sendu seolah menyambut sang mentari yang turun beriringan menuju ke pembaringannya.
Kini hatiku bersorak suka seiring senja sepoi nan tiba. Di sana akan kulabuhkan letih jiwa dan raga fanaku ini.
“Tuhanku, hingga kapan baru aku boleh menumpang di kemah suci-Mu?”
Terdengar sayup sepi sebuah lembut sahutan, “Berjalanlah kau terus lagi!”
In te Confido.
…
Kediri, 4ย Septemberย 2024

