Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Konkret, bahwa manusia hidup dan bergerak di atas relungan tempat dan dalam lingkaran waktu.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Waktu adalah Guru Kehidupan
“O tempora, O mores.” Duhai waktu, aduhai sang kehidupan,” demikian sebuah seruan (diktum) berbahasa Latin yang biasanya direnungkan di kala manusia mau merefleksikan tentang lingkaran waktu di dalam kehidupannya.
Sang waktulah yang mengajarkan kita untuk membilang dan mendongeng tentang riak-riak gairah gelora gelombang kehidupan ini dalam ziarah kita. Waktulah yang turut mendera kita untuk bergegas dan berkemas demi menuntaskan seabrek program hidup kita. Waktu pula yang mengajarkan kita untuk mengatupkan kedua tapak tangan di dada untuk bersujud syukur, karena waktu telah menggandeng dan menggendong kita hingga ke tepian kesadaran hidup ini.
Sang kehidupan juga mengajarkan kita untuk jadi pribadi paling setia menemani dan berayun ria di atas pusarannya. Dia tidak menyangkal akan kehadiran kita di dalam pusarannya. Dialah, waktu itu, telah menjadi sahabat paling setia bersama kita di dalam gelombang lingkaran kesetiaannya.
Membaptis dan Memberikan Nama
Orang-orang telah membaptisnya, menyebut namanya, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan bahkan abad. Peradaban pula yang mengejanya jadi masa kini, masa lalu, dan masa mendatang.
Namun sesungguhnya, bukan waktu yang memberi nama-nama itu. Melainkan manusia, si arif bijaksana itu yang telah membilang dan menghitungnya. Di dalam asa dan kutukan laknat, mereka telah berani berceloteh atas dan demi nama sang waktu.
Mereka telah seenaknya main kuasa di atasnya. Para pemimpin culas pun telah membombardir waktu atas nama main kuasanya. Mereka telah membagi dan membilang waktu atas nama zaman-zaman dan rezim kuasanya. Mereka juga dengan pongah menamainya rezim keemasan, rezim kedurhakaan, dan rezim penuh perjuangan.
Mari turut Membilang Hari Hidup Kita
Kita telah ikut-ikutan dengan turut bermain mata atas namanya. Mari, menghitung-hitung hari hidup kita di atas dan di dalam detak sang waktu. Hendaklah kita bersikap tulus dan setia di atasnya.
Marilah kita melambungkan madah syukur yang paling tulus demi dan atas nama kehidupan ini.
…
Kediri, 28 Juli 2025

