Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Keberanian adalah suatu pengetahuan tentang bahaya.”
(Socrates)
…
Keberanian itu Apa dan Berani dalam Makna Apa
Seingat saya, di masa kecil dan remaja, kita cukup sering mengidolakan tokoh atau pribadi pemberani dalam konteks yang sangat luas. Bahkan ada juga orangtua kita yang terus mendorong dan membujuk anaknya agar harus memiliki sikap pemberani.
Semisal ada tantangan berupa tuturan dari orangtua, “Ayo Nak, jangan takut. Ayo, kamu bisa kalahkan dia.”
Tuturan-tuturan serupa ini dimaksudkan, baik dalam hal daya juang secara fisik, atau dalam konteks kecerdasan untuk belajar dalam keberanian secara mental spiritual.
Dari Pengalaman Nyata
Saya memiliki sebuah pengalaman nyata, dalam konteks secara tidak langsung, saat turut memotivasi seorang remaja (Deven) yang sering disapa dengan sebutan Deven Flores dalam konteks agar bersikap percaya diri dan berani untuk bertarung dalam olahraga seni bela diri ‘kickboxing dan Muay Thai’.
Justru lewat cara memotivasi, maka sikap keberanian itu terbukti. Sang remaja ini akhirnya mampu meraih beberapa kali kemenangan, baik di pulau Jawa juga saat berlaga di negeri gajah putih, Thailand belum lama ini (2023/2024).
Bahkan sang Ayah (Eddy Goni) dan Bundanya tak kalah antusias. Bahkan kadang sang Ayah juga bertindak sebagai pelatih bagi putranya.
Jadi, keberanian dalam konteks ini terbangun, karena remaja ini terus dimotivasi. Juga, karena dia sudah memiliki bakat dan naluri istimewa.
Keberanian Menurut Filsuf Socrates
Dalam tulisan ini, saya bertolak dari konteks pengertian keberanian sesuai azas pemikiran filsafati ala Socrates.
Sang filsuf brilian ini justru mendefinisikan hal keberanian itu sebagai “suatu pengetahuan tentang suatu bahaya.”
Bukankah keberanian itu adalah sebuah sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak merisaukan adanya kemungkinan terburuk sekalipun?
Bagi sang filsuf, keberanian itu, bukan hanya soal merasa tidak takut. Namun juga, keberanian itu membutuhkan suatu pengetahuan, pemahaman, dan kekuatan untuk menghadapi suatu bahaya.
Menurut Socrates dalam konteks ini, orang sering keliru untuk memahami seolah-olah keberanian itu tanpa adanya rasa takut.
Beliau memaksudkan, bahwa rasa tidak takut bukanlah sifat utama untuk jadi pemberani.
Baginya, justru orang yang berani adalah orang yang sungguh tahu, bahwa itu berbahaya. Tapi ia tetap bertekad memilih untuk menghadapi. Itulah hakikat dasar sang pemberani.
Jadi, konteks keberanian ala Socrates, bahwa pemberani itu orang yang tahu dan sadar akan adanya bahaya mengancam, namun ia tetap berani untuk menghadapinya.
Berdasarkan isi dan amanat tulisan ini, pemberani itu seseorang yang sadar dan tahu adanya bahaya di depan mata, tapi ia berani untuk menghadapinya.
Bagaimanakah konteks keberanian itu menurut Anda?
…
Kediri, 6 Agustus 2024

