Oleh : Jlitheng
| Red-Joss.com | Pagi ini, jam 05.15 saya sudah ke luar rumah. Disapa satpam: “Ke gereja, Pak. Sendiri saja, Ibu tidak ikut?”
“Iya, istri ziarah,” sahutku.
Sambil mengemudi, kepala ini mulai terisi aneka tanya, antara lain: “Iya, ngapain segini pagi ke gereja, sendiri lagi? Lagian, tugas koor, tidak. Lektor atau Prodiakon, juga bukan. Perlu apa?”
Sampai gereja berharap dapat berjumpa dengan teman. Nyatanya tak mudah bersua, apalagi bersapa. Ibarat pesemaian telah berubah jadi makam. Bukan benih tapi bunga yang ditabur.
“Lantas untuk apa dan untuk siapa saya datang?” pikirku.
Kujawab sendiri: “Tak apalah. Saya masuk, lalu duduk. Ada โKawan Lamaโ yang menanti. Tanganku dijabat. Tubuh dan Darah diberikan.” Dialah Yesus yang kucari. Untuk-Nya, aku ke gereja. Juga pagi ini.
Jadi bukan karena homilinya yang menarikku ke gereja. Homili singkat atau lama, lucu atau garing, mentes atau gabuk, itu bonus saja. Setiap romo punya interest dan plusnya sendiri. โTompo wae!โ
Ending homili pagi ini baik dan tepat: โGereja adalah lahan ditaburnya benih-benih Ilahi.โ Setiap pribadi dan kelompok: Lingkungan, Seksi dan Kategorial seperti EJ (Emaus Journey) wajib menjaga, merawat dan membersihkan lahan dari duri, batu, dan ketandusan, agar siap ditaburi benih.
Seperti yang dilakukan tim Emaus Journey. Siapkan lahan untuk 15 benih yang ditaburkan oleh Tuhan. Ingat: Tugas kita siapkan lahan. Penaburnya Tuhan, benihnya milik Tuhan.
Pertanyaan, “Apa yg dipetik setelah EJ melakukannya?” Dijawab: makin rajin baca Alkitab.” Tidak salah, tapi bukan jawab itu yang kunanti. Saya tadi berharap: “Kami makin bahagia menjalani peran sebagai EJ.” Apa pun peran kita di gereja ini, kalau berbahagia menjalaninya, akan menjadi daya pikat orang lain untuk datang dan ikut.
Saya bahagia ikut Yesus. Maka apa pun kesulitannya, saya akan terus menemui-Nya. Terutama bertemu Dia dalam Sakramen Ekaristi.
Salam sehat dan tekun berbagi cahaya.
Jlitheng

