Di dalam sebuah sesi pelajaran agama di kelas 5 SD, seorang murid bertanya kepada Gurunya: “Di manakah tempat tinggal Tuhan?”
Anak itu mendapatkan dua jawaban, yang bagi dia merupakan jawaban yang memuaskan. Jawaban pertama, ialah Tuhan tinggal di Surga dan juga di hati setiap orang.
Di setiap tempat kita berada dan pada suatu waktu tertentu, Tuhan berada di Surga yang di atas, sehingga Ia melihat setiap gerak dan keadaan kita. Tuhan berdiam di dalam hati kita, sehingga ia berbisik dan menyadarkan kita melalui suara hati dan buah-buah pikiran yang sehat dan positif, dan kita menerimanya sebagai kebenaran.
Menurut Santo Tomas Aquino, teolog terkemuka Gereja, Tuhan Allah berdiam di dalam hati manusia melalui rahmat dan kehadiran-Nya itu kita alami dalam iman dan kasih. Rahmat merupakan berkat dari-Nya yang menghasilan iman dan kasih pada kita.
Ada kemungkinan orang-orang yang tidak mengenal dan percaya kepada Tuhan merasa, bahwa tidak ada Tuhan di dalam hati mereka. Sebenarnya Tuhan sungguh ada di dalam mereka, tapi mereka memilih untuk menolaknya. Jadi Kehadiran Tuhan di mana-mana dan di dalam hati manusia ini mau ditegaskan Allah kepada Daud, supaya tidak membangun sebuah tenda atau rumah kotak sebagai tempat tinggal Tuhan Allah. Tuhan telah menyertai Daud sampai ke mana-mana dalam setiap perangnya. Jadi akan lucu, kalau Tuhan dikurungkan saja di dalam sebuah rumah.
Tuhan dapat dijumpai dan alami, karena Ia datang ke hati kita dan di dalam rumah keluarga atau komunitas masing-masing. Ia datang sebagai firman-Nya yang menyebar dan tertanam, bertumbuh, dan berbuah untuk dinikmati.
Kita sebagai pribadi, keluarga, kelompok, dan Gereja selain sebagai tempat tinggal Tuhan sejak pembaptisan, juga jadi tanah subur untuk bertumbuh dan berbuahnya firman Tuhan. Adalah sebuah mujizat yang tidak pernah dibuat oleh siapa pun, selain Yesus Kristus. Ia memilih untuk masuk ke dalam diri setiap pengikut-Nya untuk membuatnya tumbuh, hidup sesuai dengan kehendak-Nya, dan berbuah seperti yang dikehendaki-Nya.
Hendaknya kita menyadari sampai detik ini, bahwa diri ini dimasuki oleh firman Allah yang memanggil, lalu kita ikuti dan Firman itu bertumbuh sedemikian sampai membuat seseorang memantapkan pilihan hidupnya. Ia menjalani pilihan hidupnya itu dan berbuah, yaitu jadi seorang dengan panggilan khusus atau hidup sebagai orang awam pada umumnya.
Kita masing-masing, di dalam doa dan renungan pribadi, perlu merenungkan selalu betapa pilihan Tuhan untuk tumbuh di dalam diri kita itu tidak salah. Sampai detik ini, Dia tetap membutuhkan kita supaya firman-Nya itu tumbuh. Kita perlu selalu menyadarinya dan menyanggupinya di dalam sukacita.
“Ya, Tuhan yang Maha Kuasa, bersabdalah selalu dan hamba-hamba-Mu ini setia mendengarkan. Semoga sabda-Mu tumbuh dan berbuah demi kebaikan kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

