“Keteladanan itu dari hati, karena kita saling mengasihi dan bahagia.” – Mas Redjo
,,,
| Red-Joss.com | Karena peduli, saya berbesar hati untuk menerima konsekuensinya, meski hal yang terpahit sekalipun.
“Mohon maaf, Bu, Pak, tolong anaknya dijaga agar tidak berisik dan mengganggu yang lain,” kata saya sambil tersenyum lembut. Mengingatkan suami istri yang duduk di depan saya. Karena kedua anaknya bermain, bercanda, dan tertawa. Padahal di dalam Gereja sedang misa.
Alih-alih dipahami, sebaliknya saya dicemberuti. Saya tersenyum, lalu mohon maaf lagi.
Tidak sekali dua, saya mengalami, dicemberuti, dan disalahpahami. Padahal saya tidak melarang dan menghalangi anak-anak itu datang pada Tuhan Yesus (Matius 19: 14). Saya mengingatkan dengan hati, karena peduli dan ikut bertanggung jawab dengan perkembangan iman anak. Untuk tertib, menghargai, dan menghormati orang lain. Apalagi saat ibadah.
Sesungguhnya, semangat peduli itu harus dimiliki umat Kristiani, dimulai dari keluarga sendiri, dan diterapkan sejak dini. Tujuannya agar anak-anak mempunyai etika, tata krama, dan sopan. Sekaligus iman keluarga mengakar kuat dan berbuah dalam kelimpahan Tuhan.
Sesungguhnya, kita dipilih dan diutus Tuhan Yesus dengan misi untuk menghadirkan wajah belas kasih-Nya. Bahwa, “Kerajaan Surga sudah dekat,” yakni ada di dalam keluarga kita.
Caranya adalah meneladani hidup Tuhan Yesus untuk diterapkan di dalam keluarga sendiri, yakni hidup saling mengasihi dan bahagia.
Teladan kasih itu harus dihidupi sejak dini, dengan memberi contoh riil. Ketimbang lewat larangan atau nasihat. Lebih bijak lewat sikap dan perilaku kita sebagai orangtua yang seia-sekata alias konsekuen dan konsisten dalam kehidupan nyata keseharian.
Membangun adab anak itu yang utama dan pertama, daripada kita mengajari anak untuk mengejar prestasi.
Keteladanan itu dari hati agar belas kasih Allah menyata dalam hidup keluarga.
…
Mas Redjo

