| Red-Joss.com | Ketika dipilih, dipercaya, dan diberi tanggung jawab oleh pimpinan itu merupakan suatu kehormatan dan anugerah agar kita melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya. Jika kita memanfaatkan untuk kepentingan sendiri berarti suloyo, dan kita tidak tahu diri!
Bagaimana dengan sikap kita saat dipilih Yesus untuk menjadi murid-Nya? (Yoh 15: 16)
Saya sungguh merasa tidak pantas, karena saya ini pendosa yang harus tahu diri!
Karena tahu diri, saya tidak segera berubah sikap untuk menanggapi panggilan Yesus. Saya ibarat anak yang menolak, ketika disuruh oleh orangtuanya. Tapi akhirnya sadar diri dan menyesal, orangtua bekerja keras demi anak-anaknya. Sedang kita, banyak bermainnya.
Begitu pula dengan Yesus. IA telah banyak berkorban untuk menebus dosa dan demi keselamatkan kita. Tapi sering kali kita menyepelekan atau abai pada-Nya.
Ketika etikat dan kebaikan kita tidak ditanggapi sesama, kita jadi malas-malasan. Ketika dikomentari atau ditanggapi miring, kita cepat reaktif untuk membela diri, bahkan balik membalas lebih garang lagi.
Saya sungguh malu hati, tepatnya minder mengikuti dan meneladani Yesus.
“Menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti Yesus” itu berat dan sulit sekali.
Menyangkal keinginan sendiri itu berat. Memanggul salib kehidupan itu makin bertambah berat. Apalagi dalam himpitan hidup, kita dituntut setia mengikuti Yesus. Pribadi mana yang kuat untuk bertahan?
Sesungguhnya, saat hati ini ragu berarti kita lemah iman, kurang percaya pada-Nya. Hasilnya jauh berdeda, jika kita mengandalkan-Nya.
Datang dan belajarlah pada Yesus, karena kuk yang dipasang-Nya itu enak dan beban pun jadi ringan (Mat 11: 29-30).
Belajar pada Yesus untuk menjadi pribadi rendah hati dan mengasihi. Mengampuni tanpa sekat dan tiada batas, bahkan kita diajak berdoa bagi mereka yang memusuhi kita. Apakah itu berat dan sulit?
Berat dan sulit, ketika kita andalkan diri sendiri. Tapi jadi ringan, ketika kita mengandalkan Yesus.
Mengikuti dan mengasihi Yesus itu harus komitmen dan konsisten agar kita setia pada tugas perutusan-Nya.
Sejak awal Yesus menegaskan, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah, bahwa dunia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu” (Yoh 15: 18).
Jadi jangan kaget, jika kita setia mengikuti Yesus dianggap sebagai pribadi yang aneh. Karena dengan mengikuti-Nya berarti kita harus menyangkal diri, melakukan hal yang dibenci oleh keegoisan kita, dan kontradiksi.
Ketika kita berani menolak tawaran kenikmatan dunia berarti kita harus tegas untuk menolak perbuatan dosa.
Berani kontradiksi untuk tidak egois, karena kita mengasihi sesama dan ingin menyenangkan hati Allah.
…
Mas Redjo

