Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang pecundang akan menegur orang dengan mulutnya, tapi sang arifin menegur lewat matanya.”
(Amanat Kebijaksanaan Hidup)
Pendidikan adalah sebuah proses panjang dan akan sungguh melelahkan, jika hal itu dapat dijalankan secara konsisten serta konsekuen.
Masyarakat modern menyebutnya ‘long life educational.’ Sungguh, proses pendidikan itu akan berlangsung sepanjang hidup manusia itu.
Di dalam dan lewat proses yang sangat manusiawi itu, justru terjadi perjumpaan dua hati, antara pihak yang mendidik dan pihak yang dididik.
Tulisan interisan ini, bertolak dari keterpukauan saya, pada sebuah kisah klasik dari negeri Matahari, Jepang.
Jepang, sangat dikenal sebagai negeri yang terdapat banyak biara Budha, dengan para Guru Zen yang terkenal sangat piawai dalam proses kedisiplinan diri lewat cara bermeditasi.
Berikut ini, sebuah kisah unik yang sungguh spektakuler, bagaimana lembut dan manusiawi, cara seorang Guru Zen mendidik seorang murid yang sering bersalah, karena belum memiliki disiplin diri.
Di biara itu terdapat seorang murid yang belum memiliki disiplin diri. Dia sering keluyuran dengan memanjat tembok biara pada malam hari, di saat penghuni lain sudah terlelap tidur.
Suatu malam, Guru Zen, Sengai, namanya sedang berkeliling biara untuk memantau keadaan.
Dijumpainya sebuah tempat tidur tanpa penghuni, berarti murid ini pergi entah ke mana.
Ternyata ada sebuah tangga yang tersandar pada dinding tembok. Pikirnya, tentu murid itu telah memanfaatkannya.
Guru Zen itu berdiri mematung di kegelapan, setelah ia menyingkirkan tangga itu.
Tak lama berselang, murid itu pun kembali. Betapa terkejut ia, karena tangga itu sudah tidak berada di tempatnya.
Apa yang dibuat sang murid nekad itu? Tanpa sengaja, dia pun menginjak kepala sang Guru dan bergegas melompat ke bawah.
Betapa gugup dan kagetnya murid itu!
“Muridku, malam ini sangat dingin. Ayo, cepatlah masuk, jangan sampai engkau sakit karena masuk angin,” seru lembut Guru dalam sunyi.
Lalu apa yang terjadi? Sejak saat itu, murid yang kurang ajar itu tidak pernah keluyuran di malam hari lagi.
Guru, oh, Guru agung, betapa luhur serta mulia tabiatmu!
Engkau telah mendidik murid yang kurang ajar justru lewat cara yang sangat beradab.
Engkau pun telah mengajarkan dan memenangkan sebuah proses pendidikan yang beradab lewat sebuah cara yang sangat manusiawi.
Sang murid itu pun akhirnya bertobat, karena dia sungguh mengagumi, betapa luhur dan agungnya, cara Guru Zen itu mendidiknya.
Kediri, 25 Februari 2024

