Ketika Yunus mewartakan pertobatan kepada orang-orang Niniwe, seluruh kota merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dari Raja hingga rakyat biasa, mereka meninggalkan kejahatan dan memohon belas kasih Allah. Sehingga Allah menanggapi dengan pengampunan. Hal ini menunjukkan, bahwa Allah selalu membuka pintu bagi mereka yang sungguh mau berubah.
Yesus menegur orang-orang sezaman-Nya yang menuntut tanda, padahal kehadiran-Nya sendiri adalah tanda terbesar dari Allah. Dia mengingatkan, bahwa orang-orang Niniwe akan bangkit dan mengadili generasi yang menolak bertobat. Kita juga bisa jatuh dalam sikap yang sama: mengabaikan firman, sibuk dengan rutinitas, tapi tidak kunjung berubah dalam sikap hidup.
Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang remuk redam. Pertobatan itu bukan sekadar doa atau puasa lahiriah, melainkan juga perubahan sikap: meninggalkan egoisme, keangkuhan, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain. Dunia kita membutuhkan lebih banyak orang yang bertobat dengan sungguh, demi keadilan dan damai.
“Ya, Tuhan, ubahlah hati kami agar sungguh bertobat dan menjadi pembawa kasih serta keadilan di tengah dunia. Amin.”
Ziarah Batin

