“Pelayanan kemanusiaan itu tidak murni lagi, ketika pikiran ini dicekoki materi.” -Mas Redjo
…
Untuk kesekian kali tawaran materi itu disodorkan oleh si Jahat kepada saya untuk dituruti dan diikuti.
Saya bersyukur, tidak tergoda, meski keadaan ekonomi dunia sedang sulit seperti saat sekarang ini.
Saya berjuang keras di atas dasar iman dan fokus untuk pemaknaan hidup ini.
Pengalaman dari keluarga sahabat itu menyadarkan saya, bahwa Iblis itu piawai bermain tipu menipu. Jika kita mohon pimpinan Tuhan, hati kita diteguhkan, sehingga tidak terpedaya oleh rayuan jahat itu.
Iblis itu ingin menjauhkan hubungan kita dengan Tuhan. Caranya adalah dengan menghancurkan anggota keluarga terlebih dulu.
Anggota keluarga dicekoki dengan aneka kegiatan semu. Semua sibuk dengan diri sendiri, sehingga hilang kepedulian dan kebersamaan itu di dalam keluarga.
Kisah keluarga sahabat, BS itu telah membuka hati saya, ketika tujuan hidup ini berorientasi uang semata. Kita mudah jatuh dalam penyesalan dan derita.
Karena demi mengumpulkan materi dan mencari pengakuan, banyak di antara kita memforsir diri, baik waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan lupa makan minum hingga mudah stres dan terserang sakit penyakit.
Begitu pula dengan keluarga BS. Karena hidup keluarga hanya untuk berburu rente, sehingga seorang anaknya sakit parah. Bahkan untuk menambah biaya berobat itu rumah keluarga dijual. Pencapaian usaha jadi sia-sia.
Perubahan hidup keluarga BS itu tampak nyata, ketika seorang anaknya yang berteman dengan bontot saya berpamitan dan minta didoakan, karena diterima di Seminari Tinggi.
“Saya ingin jadi pendoa keluarga, Pakdhe,” katanya tulus, tapi mampu mengharu-birukan hati ini.
“Jadi pendoa,” kata itu menyengat kesadaran saya. Menginspirasi dan memotivasi saya akan tujuan hidup ini untuk tidak memburu materi. Tapi pemaknaan hidup ini agar makin berarti dan berkenan bagi Tuhan.
Saya mengucap syukur tidak henti, karena hati ini tidak goyah, ketika si Jahat meminta agar keaktivisan saya di beberapa organisasi sosial pelayanan itu digunakan berbisnis dengan memanfaatkan hubungan itu. Istilahnya, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
“Saya harus memurnikan niat dan hati ini untuk fokus untuk melayani sesama,” tekad saya memohon berkat Tuhan.
Saya ingin mewujudkan doa itu jadi nyata, karena hidup ini saluran berkat-Nya.
…
Mas Redjo

