“Tuhan menyampaikan damai kepada umat-Nya… kepada jiwa yang berbalik kepada-Nya.”
Sabda Tuhan mengajar kami, bahwa di tengah ketakutan, tekanan, dan penganiayaan itu kerahiman-Nya tidak pernah meninggalkan mereka yang berpaling kepada-Nya.
Dalam Injil, Yesus memperingatkan, bahwa mengikuti Dia tidak selalu disambut: “Mereka akan menangkap dan menganiaya kamu…” Bukan untuk menakuti, melainkan untuk meneguhkan, bahwa setiap pencobaan dapat jadi kesempatan untuk mewartakan Kerajaan-Nya.
Para Kudus tidak pernah hidup tanpa pergumulan. Kitab Suci, Tradisi, dan sejarah Gereja tidak pernah menjanjikan hidup yang mulus. Tapi Yesus berbicara tentang damai di tengah ancaman, karena Yesus sendiri berjalan bersama kami dalam setiap badai.
Melalui Daniel, seorang muda buangan yang berdiri di hadapan Raja Belsyazar yang dilingkupi kesombongan, pesta pora, dan kerajaan yang sedang runtuh. Daniel tidak gentar. Karena kebijaksanaannya bukan berasal dari kekuasaan dunia,
melainkan dari Roh Allah, Roh yang memberi keberanian kepada siapa pun yang setia.
Ketika dunia mengejek kebaikan atau memandang remeh iman. Ketika memilih Kristus membuat kami tampak aneh, kuno, atau tidak populer, kami teringat nyanyian ‘Tiga Orang Muda’ dalam perapian:
“Pujilah Tuhan, segala karya Tuhan… muliakanlah Dia selama-lamanya!” (Kidung Dan 3). Di dalam api, mereka tetap memuji. Dalam bahaya, mereka percaya. Justru di tengah kobaran api itu
kerahiman-Nya jadi perlindungan mereka.
Yesus tidak memanggil kami untuk pasif atau takut. Tapi agar kami hidup berani: untuk bersaksi dalam keluarga, setia di tempat kerja,
melayani dengan kasih di komunitas, dan membangun Kerajaan di mana pun kami berada, meski tak ada tepuk tangan pujian.
Dunia mungkin menolak Injil, karena Kebenaran-Nya menyingkapkan kegelapannya. Tapi Yesus berjanji: “Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata dan hikmat.”
Inilah kerahiman yang kami pegang. Bukan kekuatan kami, melainkan kekuatan-Nya.
Ya, Allah, tolong kami melepaskan diri dari dunia yang sedang berlalu, dan menatap kepada Kerajaan Kekal yang tak berkesudahan. Berilah kami keberanian ketika disalahpahami, keteguhan ketika ditekan, dan kelembutan hati untuk mengasihi, bahkan kepada mereka yang menentang kami.
Semoga kami bertahan seperti Daniel, memuji-Mu seperti para pemuda dalam perapian, dan percaya seperti Putra-Mu dalam penderitaan-Nya. Teguhkan hati kami agar hidup kami jadi kesaksian sederhana bahwa: kerahiman-Mu lebih besar daripada segala pencobaan, dan damai-Mu lebih kuat daripada setiap ketakutan. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

