Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Warna-warni akan memudar, kuil-kuil akan runtuh, tetapi tuturan yang bijak akan tetap bertahan.”
(Edward Thorndike)
Bahasamu Ungkapan
Personalitasmu
Secara definitif ‘bahasa’ adalah ucapan, pikiran, dan perasaan manusia yang tertuang lewat tulisan atau tuturan. Sehingga dalam konteks ini, tuturan yang diekspresikan dapat dimaknakan sebagai representasi dari karakter atau jati diri personalmu.
Antara: “Idealisme dan Realitas”
Sungguh tepat, jika dikatakan, bahwa kepribadian seseorang itu sesungguhnya dapat terekspresi, antara lain juga lewat bahasa atau tuturan yang diucapkan. Semisal, tuturan seorang dokter, tentu akan memiliki suatu kekhasan, jika dibandingkan dengan tuturan seorang ahli hukum. Sedangkan tuturan agamawan, diharapkan lebih santun, beradab, dan lemah lembut. Tentu pula, bahwa tuturan seorang perampok akan sangat bertolak belakang dengan tuturan seorang agamawan. Mengapa justru demikian?
Ya, bukankah sebuah tuturan adalah luapan atau ungkapan yang dapat mewakili kepribadian atau profesi yang melekat erat dalam diri seseorang?
Sungguh ironis, jika seorang yang berjubah agama, tapi isi tuturannya, justru sarat dengan kata-kata kebencian, intonasi yang bernada cercaan, arogan, dan penuh makian. Sehingga jubah keagamaan yang dikenakannya itu, justru hanya sekadar pembungkus raga fana yang tidak ada pautannya dengan profesi dan kepribadian seseorang.
Jika hal itu justru terjadi, maka sungguh ironis dan patut dipertanyakan eksistensinya. Ibaratnya, ‘jauh panggang dari api’ artinya tidaklah sesuai di antara fakta dan idealisme.
Kearifan dalam Bertutur
Tuturan yang dihasilkan oleh seseorang lewat mimbar keagamaan, organisasi, atau lewat mimbar dimensi kemanusiaan itu akan sungguh berdampak bagi para audiensnya. Artinya, setelah bertutur bak seekor singa podium, apakah yang akan dibawa pergi sebagai buah tangan oleh para pengikut itu?
Apakah mereka akan memboyong seonggok sampah, segudang kearifan hidup, ataukah segunung motivasi dan inspirasi? Semuanya itu tentu sangat bergantung dari isi dan kualitas tuturan kita di mimbar. Di balik itu, juga ada ekses yang lain, bahwa nama kita akan dilambungkan ke langit biru atau sebaliknya ditenggelamkan ke dasar lumpur.
Semuanya itu sangat bergantung dari isi dan kualitas kita saat di mimbar. Untuk meraih tujuan itu, tentu akan juga bergantung dari gesture kearifan dan kesantuan kita.
Bagai Tuturan Sang Nabi
Lewat tulisan ini, saya spontan teringat akan kesantunan dan betapa manusiawinya tuturan dari Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat yang lembut, menawan, dan bersahabat. Atau pada indah dan bergeloranya tuturan dari orator kita, Presiden Soekarno, yang ternyata sanggup meninggalkan tempik sorak dan acungan jempol dari para pendengarnya.
Sungguh adalah nyata dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa, bahwa kedua orator legendaris ini telah mewariskan keunikan, gesture yang memukau, dan intonasi suara yang memesonakan hati bagi para audiensnya. Dalam konteks ini pula, keduanya telah mewarisi gaya yang khas dan akhlak kenabian. Karena bukankah Nabi adalah sang penutur yang mewartakan suatu kebenaran?
Refleksi
Baik di saat hidup pun mati, kita sudah dikuasai oleh ganasnya racun dari lidah kita. Si organ tubuh terkecil ini, ternyata sudah sangat rewal sejak terciptanya. Ingat… “Mulutmu adalah harimaumu!”
Siapa yang suka menggunakannya akan memakan ranum buahnya. Karena bukankah di balik itu, kita akan diadili atau dibebaskan, justru juga karena tuturan kita?
Maka sejak saat ini, ucapkanlah sesuatu yang berguna, membangun, dan mampu menginspirasi sesama manusia.
Biarlah segala sesuatu yang hidup dapat memuji Tuhan lewat tuturan lidah arifnya!
“Sebuah kata yang membangun dapat menghangatkan tiga bulan musim dingin”
(Pepatah Jepang)
Kediri, 18 Oktober 2025

