Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Errare humanum est”
(Keteledoran itu sifat manusia)
Ada sebuah ungkapan yang sungguh familiar dan menantang kita, “Jadilah manusia besi baja, dan jangan bermental kerupuk.”
Sejatinya, seberapa kuat keberadaan jatidiri anak manusia itu? Karena faktanya, secara fisik dia gampang terserang dan tertular virus serta aneka penyakit.
Dia juga gampang jatuh kepeleset salah dan keliru dalam ucapan maupun tindakan.
Mudah pula dia terjerumus dalam persekongkolan jahat, bahkan juga sangat gampang tersulut emosinya.
Ungkapan Latin, ‘Errare human est’, kekeliruan itu sifat khas manusia. Apakah hal itu bermakna, bahwa manusia itu boleh dan seenaknya berbuat kesalahan? Tidak!
Hal itu adalah sebentuk peringatan, agar kita tahu, juga sebagai fakta dan pengalaman riil. Bahwa manusia itu makhluk yang gampang dan sering berbuat salah serta keliru.
Sesungguhnya, refleksi ini mengajak kita untuk merenung dan mendalami kerapuhan kepribadian kita saat menghadapi aneka godaan dan rayuan gombal dunia.
“Tatkala Nurani Mudah Terkoyak” adalah refleksi yang bertolak dari fenomena fakta riil di lapangan.
Artinya, berdasarkan fakta di lapangan, manusia itu sejatinya makhluk yang sangat gampang remuk dan terkoyak. Karena manusia itu sangat gampang dibujuk rayu dan dimanipulasi oleh sesama / pihak lain di dalam hidup ini.
Dampaknya, tatkala nurani manusia itu mudah dikoyak, maka ada serentetan ekses negatif yang bermunculan. Di antaranya, lahirlah sebuah kondisi khaos, sikon masyarakat pun akan kacau, karena tidak puas dengan keadaan yang sudah dimanipulasi itu.
Ekses lainnya adalah timbul sikon runyam, kawan pun seketika dapat menjadi lawan, dan musuh pun berubah menjadi sahabat.
Namun semua realitas semu itu, justru hanya sebuah ilusi, fatamorgana belaka. Karena rentetan dari dagelan murahan itu ialah kehancuran, kegagalan, dan sirnanya jati diri sebuah bangsa.
Sesungguhnya, yang terjadi adalah sebuah degradasi moral spiritual dari sang manusia itu sendiri.
Maka, hadirlah manusia yang sudah keropos dan hampa harga diri serta martabat mulianya.
“Oh, sungguh, betapa malang nasib sang cucu Adam itu!”
Kediri, 1 Maret 2024

