| Red-Joss.com | Hidup ini adalah tarian waktu. Kita mau mengisinya dengan tarian apa dan untuk apa?
Jangan bilang menari itu sesuai kebutuhan, apalagi sesuai pesanan, karena ada yang meminta.
Sesungguhnya menari itu sikap hati. Ungkapan cinta kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dengan menari, kita bergerak berolah tubuh untuk memuji dan memuliakan-Nya.
Ketika menari untuk diri sendiri, kita berlatih lenturkan dan olahtubuh agar selalu sehat dan semangat.
Ketika kita menari untuk orang lain, bertanyalah pada diri sendiri, niat dan motivasinya agar kita tidak gila pujian dan hormat.
Menari untuk pesanan, apakah demi materi dan kekuasaan? Kita mengenakan topeng kemunafikan dan dibayar untuk menarikan intrik kehidupan. Kita menyebar hoaks, menghujat, dan bahkan memfitnah. Sehingga suasana makin meriah, tapi gaduh.
Sekali lagi, kita bertanya pada diri sendiri, sebelum semua terlambat. Karena menyesal juga tiada guna.
Hidup itu tarian waktu, ungkapan cinta dan pertanggunganjawaban kita pada Allah.
Dengan tarian cinta, kita mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.
Dengan menanam, kita memanen. Kita menyiangi tanaman itu dengan air belas kasih Allah agar rumput kejahatan tidak tumbuh di ladang hati kita.
Yesus adalah pokok anggur yang benar dan kita ranting-rantingnya yang berbuah banyak dan manis (Yoh 15: 1-8).
“Tarian cinta pada sesama itu untuk menyenangkan hati Allah.”
…
Mas Redjo

