Fr. M. Christoforus, BHK
“Jiwa menyampaikan kerinduannya kepada Tuhan melalui isak tangis.”
(Simone Weil)
…
| Red-Joss.com | Tulisan spesial ini berlatar belakang sebuah analisis budaya yang bertolak dari pemikiran filsuf dan mistikus Perancis, Simone Weil (1909-1943)
Hari Sabtu, (13/4/2024), dalam harian Kompas, kolom Budaya, terdapat sebuah tulisan berjudul, “Pencerahan,” karya Saras Dewi, Pengajar Filsafat Universitas Indonesia.
“Menangis adalah salah satu insting pertama manusia saat ia terlahir di dunia. Ia harus beradaptasi dengan dunia yang dingin dan membingungkan.
Ia menangis dalam upaya bernafas, menghiruf udara ke dalam tubuhnya. Dengan tangisan itu sekaligus menandakan keberadaan hidupnya.
Dalam budaya, tangisan sering diasosiasikan dengan penderitaan, tapi tangisan juga respons survivalitas, cara kita mengomunikasikan perasaan dan kebutuhan kita. Menangis demi memulihkan diri.
Menitikkan air mata menunjukkan kerapuhan dan kecemasan kita terhadap hidup yang tidak tentu arah.
Di sisi lain, duka tangis juga menunjukkan kesanggupan seseorang yang memiliki empati dan belas kasih pada kesengsaraan orang lain,” demikian Saras Dewi.
Seingat saya dalam sebuah tulisan dikatakan, bahwa rasa haru itu pun menunjukkan cara tubuh manusia mengekpresikan kerinduannya kepada Tuhan. Jadi, tangisan haru itu tidak selalu sebagai ekspresi keterbatasan serta penderitaan sang manusia.
Ternyata di dalam bidang kerohanian, tangisan penderitaan itu seolah dibiarkan Tuhan agar manusia mau belajar menjadi dewasa dalam mengarungi hidupnya.
Sebuah keberadaan yang tampak kontradiktif di dalam hidup manusia dan bahkan bercorak membingungkan, justru bermanfaat secara edukatif, karena mendewasakan manusia dalam menghadapi aneka tantangan hidup.
Bukankah di dalam hidup dan budaya kita, dikenal, bahwa tangisan itu tidak saja sebagai ekspresi suatu penderitaan, tapi, juga sebagai luapan kegembiraan serta kebahagiaan.
Tengoklah pada adegan riil tangisan seorang wisudawan atau wisudawati. Atau juga pada tangisan pengantin dan mempelai.
Bukankah kedua bentuk tangisan itu justru sebagai luapan emosi kegembiraan dan kebahagiaan?
Sebagai penutup tulisan ini, saya sering terperanjat mendengar ocehan salah paham, “Pria koq menangis. Cengeng kamu. Ayo, jadi putri sajaโฆ”
Refleksi:
Sebuah tangisan haru ternyata tidak selamanya sebagai ekspresi sebuah penderitaan, tapi, juga sebagai tanda luapan emosi kebahagiaan!
…
Kediri,ย 14ย Aprilย 2024

