Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lengan-lengan terentang adalah simbol kuasa dan kewibawaan
manusia. Sekali kelak rentangan lengan nan megah itu kan melemah. Karena kuasa dan wibawa manusia itu justru sangat terbatas.”
(Pada Sepotong Catatan)
Tangan
Organ tubuh jiwa
simbol sepucuk kuasa dan seraut wibawa
Tangan-tangan hilang
adalah jeritan derita
memohon kelas kasih
Bahwa
aku sudah tak sanggup
tak punya apa pun jua
Maka,
tangan-tanganmu adalah tanganku juga!
Fr. M. Christoforus, BHK
(Pada sepotong Catatan)
‘Tangan’ dalam Peradaban Nusantara
Ternyata tangan manusia, tangan Anda, saya, juga tangan-tangan kita itu mempunyai riwayat panjang yang sangat mengagumkan dalam sejarah peradaban bangsa kita.
Ingatkah kita akan tangan-tangan kuasa yang menunjukkan wibawa dari para Raja dan Ratu di bumi Nusantara ini? Di berbagai Kerajaan dan Keraton, seperti Raja Jawa atau Raja di Bumi Sri Wijaya, Raja Bali, Makasar, Kediri, Aceh, dan Raja-raja lainnya di Negeri ini?
Bukankah kuasa dan kejayaan manusia, entah apa pun statusnya, toh sangat terbatas. Raja, bahkan akan kembali jadi rakyat jelata, dan sebaliknya, rakyat jelata itu dapat naik takhta. Itulah hidup, permainan dan sebuah seni hidup.
Jika kuasa dan kewibawaan manusia itu akan sirna, maka dalam konteks ini, bahwa kuasa dan kewibawaan manusia itu sangat terbatas.
Untuk itu, dibutuhkan tangan-tangan lain yang akan menyambung dan meneruskan kuasa serta kewibawaan itu. Itulah tongkat estafet kepemimpinan. Itulah pentingnya proses regenerasi dan kaderisasi dengan menyiapkan calon-calon pemimpin yang baru.
Proses Regenerasi
Regenerasi, lewat cara apa pun itu sebagai sebuah proses, maka di dalamnya dibutuhkan: ketulusan, kejujuran, demokratis, dan sikap saling menghargai.
Tanpa sikap beretika, tulus, jujur, dan demokratis, maka hanya akan menghadirkan sosok pemimpin ‘karbitan alias cepat saji’, karena sarat dengan rekayasa.
Tangan-tangan Hilang
‘Tangan-tangan hilang’ itu menyimbolkan, bahwa sudah berakhir dan terbatasnya masa suatu kejayaan dari manusia selaku pemimpin dalam berkuasa.
Untuk itu, sangat dibutuhkan seorang pemimpin baru yang akan meneruskan tongkat estefet kepemimpinan.
Amanat bagi Kehidupan
Lewat tulisan ini, kepada kita diajarkan, bahwa kuasa itu terbatas, maka segera lepaskan jabatan itu, karena akan ada pemimpin baru yang meneruskan posisi kepemimpinan itu.
Hal ini adalah suatu proses yang lumrah, wajar, dan biasa. Di sisi yang lain membuktikan, bahwa tidak ada yang abadi di atas jagad hidup ini.
Panta Rhei
“Panta rhei” dari Herakleitos, bahwa segala sesuatu akan mengalir dan berubah serta tidak ada yang abadi.
Kediri, 8 Agustus 2025

