Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.”
(Peribahasa)
[Red-Joss.com] Saya pernah mendengar secara langsung seruan ini, “Maksud hatiku memeluk gunung, apa daya tanganku tak sampai,” tuturan seorang calon pegawai negeri yang dinyatakan tidak lolos tes masuk pegawai negeri.
Sungguh mengenas dan juga sangat menantang. Kini, tampak kedua bola matanya berkaca-kaca. Celetuknya, “Kira-kira alasan apalagi ya, semua persyaratan sudah saya penuhi, bahkan, maaf, sampai-sampai saya rela sodorkan sedikit uang main mata dengan pihak kaki tangan Panitia Penerimaan Pegawai Baru (PPPG) daerah.โ
Keluhan serta celetuk sang pria muda, sarjana S1 yang sangat idealis ini, tak urung menyentuh hatiku. Sejujurnya, dada batinku juga turut bergolak. Saya sungguh memahami kegalauan, rasa kecewa, dan frustrasinya anak muda itu.
Peristiwa ini sebuah fakta, bahkan bisa terjadi di sekitar kita.
Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Sungguh, sebuah peribahasa yang sangat interisan, indah, dan bermakna. Namun, di balik estetika kata serta rasa bahasa indah itu justru terselip segundang kegelisahan, dan sepahit empedu.
Antara idealisme dengan fakta, sering berbanding terbalik. Terasa sangat menyakitkan. Karena sudah banyak hal yang dikorbankan. Kini, semuanya itu terkubur.
Banyak faktor penyebab yang jadi penghambatnya. Antara lain, persyaratan yang belum dipenuhi, mungkin ada sistem penjatahan, atau tidak ada orang dalam. Hal yang sesungguhnya tidak kita ketahui.
Bagaimana sikap dan tindakan kita, jika menghadapi hal serupa? Bunuh diri, berdemo, atau bungkam seribu bahasa? Dalam konteks ini, tentu Anda dan saya, akan berhadapan dengan pihak lembaga negara.
Marilah kita potret peristiwa ini lewat kacamata kemanusiaan dan iman. Semua pihak terkait, panitia, dan calon pegawai adalah manusia biasa yang bisa salah dan teledor. Soal jujur atau tidak, hal itu tidak dapat kita pastikan. Hindarilah memfitnah!
Lebih bijak, renungkan dan bersikap realistis. Bisa jadi, lembaga impian itu, justru bukan ladang untuk kita. Kita tidak dipanggil untuk bekerja atau melayani di sana.
“Providentia Dei”
(Penyelenggaraan, penyertaan Tuhan).
Kediri, 12 Agustus 2023

