Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di balik kuat kuasa lengan perkasa-Mu, sungguh amanlah hidupku.”
(Sepucuk Doa Pengharapan)
…
Tentang Sepasang Tangan
Tangan! Ya, ada sepasang tangan kita. Tangan-tangan itu berlengan dan berjemari sepuluh. Masing-masing jemari juga bermakna.
Ada jari kelingking si mungil, ada jari manis, tempat sebentuk cincin melingkar manja. Ada jari tengah, simbol kepemimpinan. Ada jari telunjuk, simbol sang penunjuk arah serta jalan. Juga ada ibu jari.
Tangan-tanganku, tanganmu, dan juga tangan kita ternyata memiliki serta menyimpan sejuta makna.
Tangan itu Bersimbol.
Ternyata tangan-tangan manusia menyimbolkan dan mewujudkan suatu kekuatan dasyat, sebentuk pertolongan dan perlindungan.
Bahkan tangan juga sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan sang manusia.
Ilustrasi Bermakna
Menjelang suatu hari besar keagamaan, murid kelas satu SD diminta untuk menggambar sesuatu sebagai ungkapan rasa syukur mereka.
Hasilnya? Ternyata ada murid yang menggambar sebuah rumah dan mobil mewah. Ada murid yang menggambar seekor ayam kalkun, dan juga kue, serta alat mainan. Tapi, ada seorang murid yang mengganbar tangan.
Teman-temannya mulai menduga, tangan siapa yang digambarkan itu? Apakah tangan Tuhan, Pak polisi, atau tangan seorang petani? Namun tak seorang pun yang mampu menebaknya.
Di saat jam beristirahat, tatkala semua murid meninggalkan kelas, Ibu Guru mendekati anak itu dan bertanya, “Nak, tangan siapa yang kamu gambar?”
Sambil menatap lembut mata Ibu Guru, anak itu berbisik, “Tangan Ibu Guru.”
Spontan dan seketika, berlinanglah air mata Ibu Guru. Kini, dia teringat, bahwa memang benar, dia sering menuntun tangan anak itu di saat belajar menulis dulu. Bahkan ia pernah menuntun tangan anak itu saat menyeberangi jalan. Karena memang anak itu seorang murid timpang.
(1500 Cerita Bermakna)
‘Tangan Ibu Guru’ jadi sentral dan sebagai spirit esensial dalam tulisan ini. Di dalam konteks ini ada tangan yang telah membimbing, menuntun, dan melindungi.
Betapa kuat, dasyat, dan melekat eratnya memori si mungil, murid kelas satu itu terhadap ketulusan di dalam suatu proses edukasi sejati.
Kekuatan Memori akan Sikap Bela Rasa
Tentu, si mungil dalam konteks ini tidak sedang berniat untuk membalas budi baik Ibu Guru. Tapi dia hanya mau bersikap spontan untuk mengekspresikan daya pesona dan ingatannya akan sebuah sikap empati serta kasih yang masih melekat erat di dalam benak sadarnya.
Itulah dasyatnya memori kecil anak manusia akan sebuah sikap dan aksi bela rasa (compassion) dari orang dewasa yang telah dialaminya. Itulah luapan perbendaharaan nuraninya yang diekspresikan secara spontan.
Lingkaran Pendidikan Sejati
Dalam lingkaran pendidikan sejati terjadi proses perjumpaan secara personal antar dua keping hati. Antara hati Guru dan hati murid.
Di sana juga terjadi suatu perjumpaan dalam spirit ketulusan. Lewat suatu proses pemberdayaan yang utuh total. Proses ‘homo humanus’ (pemanusiaan sang manusia).
Aku hadir semata-mata demi engkau!
…
Kediri,ย 23ย Oktoberย 2024

