“Bukan otak-atik gathuk, supaya klop. Sejatinya hidup ini ungkapan belas kasih Tuhan.” -Mas Redjo
…
Lebih bijak direnungkan. Kasih Tuhan itu dinyatakan pada pribadi yang rendah hati dan bijaksana.
Semula merasa janggal dan aneh, tapi saya melihat kebenaran dari sikap dan kata-kata Ibu, sebulan menjelang kepulangannya.
Ibu berpesan, jika Ibu berpulang agar saya dan istri tidak bingung, tapi tenang. Kami diminta untuk mengutamakan dan mengurusi cucunya lebih dulu.
Juga kejadian, ketika sedang santai di lincak dari anyaman bambu, saya didatangi Ibu yang empunya rumah. Ia minta didoakan agar sembuh dari penyakit busung yang dideritanya selama tahunan itu. Meski bukan tabib, lalu saya meminta air hangat dan berdoa untuk memohon belas kasih Tuhan. Air itu untuk diminum dan dioleskan di perutnya yang busung. Ajaib, dari hari ke hari perut Ibu itu kian mengecil, dan sembuh.
Disusul dengan kejadian ajaib yang lainnya. Misalnya, ketika membeli satu ruko, saya diberi tiga ruko oleh yang empunya ruko dengan cara mencicil langsung ke beliau. Padahal kenal beliau saat transaksi, dan saya tidak mempunyai banyak uang. Pikiran saya tidak mampu mencerna kejadian aneh itu.
“Tanda-tanda ajaib itu biasanya diawali dengan kedatangan Malaikat Tuhan yang menyamar,” jelas seorang rekan senior dalam temu kebatinan, ketika menanggapi cerita saya yang di luar nalar itu.
Saya diam, merenungkan, lalu menarik benang merah dari banyak peristiwa ajaib itu. Jawaban saya sederhana, semua itu terjadi, karena kerahiman Tuhan. Kasih-Nya dinyatakan!
Raibnya Hosti Suci
Begitu pula dengan kisah koster Pak DT belum lama ini. Ketika Misa tahun baru 2025 di MP. Saat doa pembukaan, tiba-tiba lilin di meja altar itu jatuh ke lantai. Sehingga segera diganti oleh Putera Altar
Seusai Misa, bersama beberapa rekan Prodiakon, Pak DT bersantap nasi soto. Dalam pembicaraan itu, Pak DT mengatakan tidak akan ke Gereja Pinang lagi! Bahkan ia mengulang kata-kata itu hingga 2 kali.
Sore hari Pak DT mengeluh sakit, dan minta dikerok. Lalu dibawa ke RA. Sehingga untuk Misa jam 18.00 itu tugasnya di Gereja Sanbera, digantikan oleh Koster lain.
Keanehan, atau tepatnya keajaiban terjadi lagi. Ketika Komuni Kudus, sebuah Hosti besar dari yang semula 2 buah Hosti itu raib dari Sibori Romo Hieron. Padahal Hosti itu mau dipatahkan dan dibagikan ke Prodiakon.
Sambil membagi Komuni, Romo berpikir Hosti itu tercampur dengan yang kecil, dan berada di bagian bawah. Ternyata hingga Komuni usai, Hosti itu tidak ditemukan di
Sibori
Karena saking penasaran, seusai Misa, Romo mencari di atas atau bawah meja altar, sekiranya jatuh. Juga mungkin jatuh dan terselip di jubahnya. Tapi Hosti itu tidak ditemukannya.
“Mungkinkah Hosti yang raib itu suatu tanda kepulangan Pak DT?” tanya saya dalam hati, setelah malam itu mendengar cerita Romo saat kami melayat di rumah duka Boen Tek Bio.
Saya tidak mau berpikir jauh dan berotak-atik gathuk. Karena Tuhan Maha Misteri dan ketetapan-Nya itu adalah yang terbaik untuk menyatakan kasih-Nya pada kita.
Terpujilah Tuhan!
…
Mas Redjo

