“Yesus tidak menuntut yang tidak kita miliki. Ia meminta dari yang ada pada kita. Serahkan… Lihatlah… Ia yang akan menggandakan.”
Yesus melihat orang banyak yang lapar, lelah, dan jauh dari rumah. Mereka sudah tiga hari mengikuti-Nya. Hati-Nya tergerak oleh belas kasih. Bukan terganggu dan acuh tak acuh, melainkan tergerak. Inilah wajah Allah yang sejati. Bukan Allah yang jauh dan hanya menuntut. Melainkan Allah yang peduli pada detail hidup kami.
Sebaliknya dengan Raja Yerobeam yang membangun mezbah-mezbah palsu, karena takut kehilangan kuasa. Ia menciptakan agama yang nyaman agar bisa tetap mengontrol. Umat jadi melupakan Tuhan yang telah menyelamatkan mereka. Seperti kata Pemazmur, “Mereka melupakan Allah yang telah melakukan perbuatan-perbuatan besar.” Ketakutan membangun kerajaan palsu, tapi belas kasih membangun Kerajaan Allah.
Dalam Injil, para murid berdiri di “tempat sunyi” dan bertanya, “Dari mana orang dapat memperoleh roti…?” Padahal mereka sudah pernah melihat mukjizat. Tapi ingatan akan rahmat sering kali pendek. Mudah lupa dan iman mudah goyah. Kami juga begitu: kemarin kami mengalami pertolongan Tuhan, hari ini sudah cemas lagi.
Yesus tidak menolak mereka. Ia bahkan melibatkan mereka. “Berapa roti yang ada padamu?” Tujuh. Tapi secara manusiawi, jelas tidak cukup. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Yesus mengambil yang tidak cukup itu, memberkatinya, memecahkannya, dan membagikannya melalui tangan para murid. Mereka jadi rekan kerja belas kasih.
Mukjizat ini terjadi di wilayah orang bukan Yahudi: di Dekapolis. Ini tanda, bahwa kasih Kristus tidak terbatas pada satu bangsa. Tidak ada yang dikecualikan. Kerahiman-Nya untuk semua, yang kuat dan lemah, juga yang dekat maupun yang jauh.
Roti yang digandakan ini menunjuk pada sesuatu yang lebih dalam: Ekaristi. Roti biasa mencegah orang pingsan di jalan. Tubuh Kristus memberi kekuatan untuk hidup kekal.
Kerajaan yang Ia bangun bukan seperti kKerajaan Yerobeam, yang didirikan atas rasa takut dan manipulasi. Kerajaan Kristus berdiri di atas belas kasih, pembagian diri, dan kelimpahan kasih karunia.
Bapa, kami akui, bahwa kami mudah lupa. Kami membangun mezbah-mezbah kecil demi rasa aman kami sendiri. Kami ragu bahwa rahmat-Mu sungguh cukup.
Pertanyaan Yesus tetap sama, “Apa yang ada padamu?” Ini, Tuhan, ambillah, walau hanya sedikit yang kami punyai: Iman yang kecil. Kasih yang sederhana. Upaya yang terbatas. Lipat gandakanlah semuanya.
Jadikan keluarga kami tempat damai-Mu. Komunitas kami ladang keadilan. Gereja-Mu tanda nyata, bahwa tidak seorang pun berada di luar jangkauan kerahiman-Mu.
Semoga setelah kami dikenyangkan oleh Kristus dalam Ekaristi, kami diutus untuk jadi roti bagi dunia; membangun Kerajaan-Mu yang adil, benar, dan penuh damai.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

