Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Si Vis Pacem, Para Bellum”
(Flavius Vegetius Renatu)
“Kita berharap tidak ada pihak yang berpendapat, bahwa diplomasi sudah mati. Yang dibutuhkan sekarang adalah mediator yang dipercaya kedua belah pihak yang berperang,” demikian tulis Michael Trias Kuncahyono, Duta Besar RI untuk Takhta Suci. Kompas, Rabu, (25/6/2025) dalam Opini berjudul, “Vatikan dan Ruang Diplomasi Akhiri Perang.”
Secara Historis
Sejarah mencatat, pada puncak Perang Dunia II saat Sekutu mengoordinasikan strategi mereka, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill mengusulkan untuk melibatkan Paus (Paus Pius XII) dalam negosiasi perdamaian.
Usulan tersebut menuai tanggapan mengejek dari diktator Soviet, Joseph Stalin, “Paus? Berapa banyak divisi yang dimiliki Paus?” Puluhan tahun kemudian, Uni Soviet runtuh – sebagian dibantu oleh diplomasi kepausan (Paus Yohanes Paulus II). Saat ini, aktivitas diplomatik Takhta Suci tetap jadi kekuatan unik dalam hubungan internasional. Demikian tulis Michael Trias Kuncahyono ditinjau dari aspek historisitas.
Kini, (2025) bahkan Paus Leo XIV l tidak kalah gencarnya menyerukan perdamaian. “Perang tidak menyelesaikan masalah; perang justru memperparah masalah dan meninggalkan luka mendalam dalam sejarah masyarakat yang memerlukan waktu beberapa generasi untuk menyembuhkannya.” Setiap konflik merupakan “jurang yang tidak dapat diperbaiki.” Kompas, Rabu, (23/6/2025).
Lewat kesaksian, bahwa masih pentingnya peran Takhta Suci lewat aspek diplomasi secara historis, maka kita dapat mengonklusikan, bahwa ‘ruang diplomasi masih penting dan sangat relevan’ untuk diterapkan dalam zaman ini.
Mengapa Peran Takhta Suci justru sangat Diperlukan?
Kini dunia kian terbuka matanya, bahwa peran diplomasi yang seharusnya diemban oleh PBB justru tidak memperlihatkan taring kuasanya. Maka, pilihan lainnya adalah Takhta Suci, Vatikan.
Mengapa demikian? Bukankah karena Vatikan sebagai negara berdaulat yang tidak memiliki kepentingan apa pun, baik di bidang politik dan secara ekonomi, bisa memainkan peran sebagai mediator yang paling ideal.
Selain itu, Takhta Suci akan tetap bersikap netral, berdaulat, tapi tidak berpihak, yang memungkinkannya berkomunikasi dengan berbagai pihak dalam suatu konflik.
Perang Berakar dalam Hati Manusia
Sungguh, akar dari segala pertikaian itu justru bercokol di dalam hati manusia. Hati manusia itu sebagai sumber dan asal dari api peperangan itu.
“Tidak ada pihak yang sungguh ingin berdamai. Ini persis yang terjadi dalam banyak perang selama ini. Maka, perang pun terjadi di mana-mana.” Demikian Michael Trias Kucahyono menutup tulisannya.
“Jika ingin berdamai, maka maklumkanlah perang” (Flavius Vegetius Renatu).
Kediri, 29 Juni 2025

