Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup itu bagaikan
orang memetik temali
gitar.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Jangan Kebakaran Jenggot
Ternyata di atas wadah seceper bumi ini, tidak selamanya kita akan menemukan sesuatu yang serba seprinsip, yang serba sepakat dan sepaham, yang serba sesuai dan sejalan, serta juga yang sekata dan seperbuatan. Tidak! Itu tidak akan ada! Karenanya, semoga Anda tidak akan kebakaran jenggot!
Hal ini dapat disimpulkan berdasarkan suatu pengalaman nyata dari hidup ini. Ya, atas dasar sebuah realitas dan fakta hidup kita.
Percakapan di Ruang Dokter
Suatu hari di ruang tunggu dokter, banyak orang sedang menunggu giliran untuk diperiksa kesehatannya. Ada juga seorang pria berusia lanjut. Pria itu tampak gelisah dan sesekali menatap arloji tangannya.
Mungkin, karena sudah tidak tahan lagi, dia menghampiri resepsionis itu dan berkata, “Nak, janji untuk saya adalah pukul sepuluh, tapi sekarang sudah pukul sebelas. Saya tidak dapat menunggu lebih lama. Dapatkah Anda menentukan waktu lain untuk saya selain hari ini?”
Setelah mendengar pernyataan itu, salah seorang pasien berbisik kepada temannya, “Paling tidak Bapak ini sudah berusia delapan puluh tahun. Urusan apalagi untuk orang setua dia sampai-sampai dia tidak mau bersabar lagi?”
Mendengar ocehan pasien di sampingnya, maka pria tua itu sambil membungkuk berkata, “Usia saya delapan puluh tujuh tahun, Nak. Justru karena usia saya, maka saya tidak mau sia-siakan barang semenit pun dari waktu tersisa dari hidup saya.”
Dari Segelas Susu
(Adaptasi dari A. de Mello, SJ)
Waktu adalah Kesempatan Emas
Berdasarkan prinsip ekonomis dan bisnis, bahwa ‘waktu adalah uang’ (hora pecunia est) gurau orang Latin. Tapi, bagi orang-orang yang hidup berdasarkan prinsip kedisiplinan dan perencanaan yang serba matang, setiap kegiatan di dalam suatu arena hidup yang tidak mempedulikan aspek kedisiplinan waktu, maka hal itu adalah sebuah kesalahan fatal. Hal itu merupakan sebuah kekalahan pertama.
Bencana Anak Negeri ini
“Jam karet,” ya, inilah sebuah frase idiomatik ironis yang sudah merupakan sebuah lagu lama di kalangan kita, sebagai anak bangsa yang dilabelkan sebagai ‘kura-kura latah’ ini.
Maka, kepada anak bangsa kita pernah digosipkan lewat sebuah guyonan, bahwa anak bangsa kita, memang selalu meraih gelar kejuaraan dalam konteks ketidakdisiplinan waktu. Maka, kepada bangsa kita diplesetkan sebagai sang ‘juarawan dari belakang.’
Kerisauan sang Pria Tua
Kini kita dapat memahami konteks kecemasan pria tua di dalam kisah ini. Karena hidup beliau sudah menyatu dengan prinsip kedisiplinan yang tak tergoyahkan itu.
Pertanyaan Reflektif
Sebuah pertanyaan nakal dan menantang, jika memang demikian, “Bagaimanakah dengan generasi Z yang hidup di negeri ini?”
…
Kediri, 11 Februari 2025

