Red-Joss.com | Tak banyak lagi yang tahu pepatah: “Ada ubi ada talas ada budi ada balas.”
Suatu hari, ketika saya beranjak pulang usai mengajar, saya disapa seorang mahasiswi berjilbab: “Bapak masih ingat saya?” Kemudian dia meraih tanganku dan menciumnya. “Saya adalah Hamidah (samaran), waktu semester pertama dan kedua diajar oleh Bapak. Sekarang sudah semester enam.”
Saya tidak pernah berharap balas budi seperti itu, tapi beberapa kali mengalami.
Apa itu balas budi?
Balas budi, adalah sebuah rasa yang tidak kita harapkan, namun bisa membuat bahagia, ketika kita menerimanya dan mendatangkan berkah bagi yang melakukannya.
Berbeda dengan balas dendam, ‘mata ganti mata’, ternyata balas budi adalah perbuatan yg harus diajarkan, balas budi tidak muncul alami pada diri kita.
Anak-anak harus belajar balas budi. Cara termudah, yaitu dengan membiasakan anak mengucapkan terima kasih, ketika dipermudah atau dibantu orang lain.
“Mahasiswi atau mahasiswa seperti contoh di atas sudah pasti mendapat contoh baik dari orangtuanya, sehingga mereka menjadi pribadi yang mampu berterima kasih kepada orang lain.”
Dalam sebuah pertemuan orangtua murid, seorang ibu bercerita: “Saat teman-teman anakku datang, saya kerap memberikan makanan dan anakku bertanya, kenapa Mami kasih mereka jajananku?”
Jawabku: “Sebab teman-temanmu sudah baik mau berkunjung dan Mami merasa perlu membalas kebaikan mereka dengan memberi makanan.”
“Suatu ketika,” lanjut cerita Ibu tadi, “Saya meminta anakku mengantarkan masakan ke rumah tetangga, dan anakku bertanya, “Kenapa ngasih makanan?”
Jawabku: “Karena kita sudah dibantu, ketika Mami harus isoman tetangga menolong dengan memberi segala kebutuhan kita.”
“Harapanku, anakku bisa menyerap makna membalas kebaikan orang lain dengan ucapan dan perbuatan yang nyata,” kata Ibu tadi mengakhiri ceritanya.
Sekali lagi, balas budi adalah sebuah rasa yang tak kita harapkan, namun bisa membuat kita bahagia, ketika menerimanya dan mendatangkan berkah bagi yang melakukannya.”
Tak jenuh berbagi cahaya.
…
Jlitheng

