| Red-Joss.com | “Ya, Allah, izinkan saya merangkai huruf demi huruf agar menjadi kata, lalu kalimat itu sebagai ungkapan syukur kepada-Mu.”
Tidak kuhiraukan lagi denyutan di kepala yang makin memberat ini. Hidung yang tersumbat dan sulit bernafas, karena flu berat. Jari tangan ini gemetar memilih huruf di tuts hape, tapi selalu gagal.
Tiba-tiba saya merasa jadi orang yang paling bodoh, sekalipun dibandingkan dengan anak kecil yang sedang belajar mengeja huruf.
Baru kali ini saya merasa sulit untuk menulis. Padahal menulis adalah profesi saya. Menu sehari-hari yang jadi nafas kedisiplinan saya untuk berbagi karya dan karsa pelayanan.
Faktanya, sepulang mengikuti Vigili Paskah hingga larut malam itu, keesokan harinya saya flu berat dan batuk. Saya menulis seperti anak yang tengah belajar jalan, tertatih-tatih, dan jatuh. Saya rembetan untuk memulai berjalan lagi.
Saya lalu mencoba mencari jawab, sebab flu berat. Padahal saya selalu menjaga dan memperhatikan asupan gizi, istirahat cukup, dan olahraga ringan. Saya melakukan semua pekerjaan itu tanpa beban, tapi enjoi agar saya jauh dari stres.
Ternyata gara-garanya terlambat makan dan saya duduk di bawah AC. Tapi sakit ringan itu saya sepelekan.
Biasanya, dengan makan sayur berkuah, minum obat warungan, dan istirahat cukup saya segera sehat kembali. Tapi sekarang menginjak hari ke 3. Beruntung, saya diberi izin oleh bos untuk istirahat di rumah. Dengan catatan, saya harus istirahat total.
Istirahat total? Hal itu yang tidak bisa saya lakukan. Karena saya mempunyai tugas harus menulis setiap hari. Tidak demi status, tapi untuk berbagi, memotivasi, atau sebisa mungkin mampu menginspirasi orang lain.
Ketika istri dan anak menyanyi agar saya istirahat dan tidak memegang hp, saya menjawab enteng dengan senyuman.
“Ketika kita diberi suatu tanggung jawab profesi, kita harus setia, komitmen, dan konsekuen untuk melakukan semua itu. Karena sakit atau berhalangan, lalu digunakan sebagai alasan untuk lepas dari tanggung jawab itu konyol.”
“Absen menulis hanya 2-3 hari, Be. Hari berikutnya nulis banyak.”
“Le, namanya menulis itu sebagai nafas yang menghidupi. Apakah kita bisa berhenti bernafas?”
Akhirnya istri dan anak menyerah, lalu pergi mendiamkan saya yang dianggap keras kepala.
Saya lalu mencoba untuk menulis lagi. Saya tidak mau beralasan, karena sakit lepas dari tanggung jawab. Saya tidak mau sakit itu menghambat aktivitas saya.
Kini yang saya lakukan adalah, saya tidak fokus pada penyakit, masalah, atau beban hidup. Tapi percaya dan fokus pada Allah yang bakal menolong saya agar lancar dalam karya dan karsa-Nya.
Saya juga harus jujur mengakui, bahwa sakit itu juga anugerah Allah yang harus disyukuri untuk diambil hikmahnya.
Tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Apa pun hambatan dan tantangannya, saya harus setia pada profesi untuk menyelesaikan tugas perutusan sebagai penulis itu secara tuntas dan paripurna.
Saya menarik nafas panjang sambil membayangkan pengorbanan Yesus yang disalib untuk menebus dosa manusia.
Bibir saya bergetar melafal doa. Aneh tapi nyata, tiba-tiba kepala saya tidak sakit lagi, dan dada ini serasa plong. Ide tulisan pun lancar kembali dan dahaga jiwa itu pun minta dipuasi.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

