Meskipun Tuhan Maha Pengampun, dan karunia itu adalah cuma-cuma, tidak berarti, kalau pengampunan dari-Nya langsung beres. Iman kita mengajarkan, untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa itu, Gereja menyediakan Sakramen Tobat. Di dalamnya ada elemen materialnya ialah dosa yang diakukan oleh si pendosa, dan elemen formalnya ialah formula absolusi yang disampaikan Bapak pengakuan, yang menyatakan pembebasan seseorang dari dosa-dosanya.
Khusus untuk elemen materialnya, ada syarat untuk mendukung pengungkapan dosa pada kesempatan pengakuan dosa. Syarat itu menunjuk pada sikap dan cara orang mempersiapkan dirinya untuk melakukan sebuah pengakuan dosa. Syarat-syarat resmi Gereja biasanya terkait dengan bimbingan atau pedoman untuk diikuti oleh umat yang mempersiapkan diri menerima Sakramen ini. Di samping itu, ada syarat penting dan jadi tanggung jawab setiap pribadi, sehingga dapat menggambarkan iman dan penghayatannya akan Sakramen ini.
Nubuat Daniel menekankan tentang peran sikap menyesal si pendosa. Penyesalan merupakan syarat yang sangat penting untuk memberikan kualitas pengakuan dosa sebagai sikap negatif dan tegas terhadap dosa-dosa. Jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah menandakan, kalau si pendosa sedih sekaligus marah atas kehinaan dirinya. Ia kasihan dengan dirinya yang bernasib jelek. Dengan demikian Tuhan yang Maharahim dapat berpaling perhatian dan kasih-Nya kepadanya. Orang yang tidak menampakkan penyesalan, biasanya mencari kambing hitam dari dosa-dosanya atau bangga dan senang, karena dengan berdosa ia dapat memenuhi niatnya.
Injil Matius mengatakan, jika kita tidak mau mengampuni orang yang bersalah pada kita, Bapa di Surga tidak mengampuni kita. Doa “Bapa Kami” menekankan hal ini, karena ini adalah tindakan Tuhan sendiri. Itu berarti, bahwa sebelum mendapatkan tindakan formal pengampunan saat melakukan pengakuan dosa, kita mesti lebih dahulu mengampuni mereka yang bersalah pada kita. Oleh karena itu selain menyampaikan elemen-elemen material yaitu dosa-dosa nyata, si pendosa perlu jujur menyampaikan, bahwa ia telah mengampuni orang-orang yang ia sebutkan di dalam pengakuannya. Suatu pengakuan dosa yang efektif dan berbuah, karena adanya pengampunan terhadap si pendosa yang bersalah itu, sebelum kita mendapatkan pengampunan dari Tuhan melalui Gereja.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, ajarkanlah dan semangatilah kami untuk tidak malu dan takut untuk mengampuni. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

