“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah Ibu-Ku” (Mrk 3: 35).
Dalam menjalin relasi, banyak orang memiliki kesadaran tentang pentingnya memiliki citra diri yang positif dan dikenal sebagai bagian dari keluarga ataupun komunitas yang memiliki reputasi yang baik dan dikagumi. Sehingga dalam memilih pasangan hidup, filosofi jawa mengajarkan pentingnya ‘bibit, bebet, bobot’; di mana bibit adalah asal-usul atau garis keturunan; bebet adalah status sosial atau ekonomi; dan bobot adalah kualitas diri atau kepribadian; agar kelak pasangan tersebut dapat hidup berbahagia bersama dan melanjutkan keturunan yang membanggakan. Namun, dalam kenyataannya tidak semua orang terlahir dalam kondisi keluarga yang baik. Kondisi keluarga yang ‘broken home’ akankah juga dapat memberikan keturunan yang baik?
Injil mengingatkan kita, bahwa Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat jadi saudara-saudari Yesus apa pun latar belakangnya. Kita dapat diangkat jadi anak-anak Allah, ahli waris kerajaan Surga, jika kita melakukan kehendak-Nya. Dengan demikian, kita jadi pribadi yang penuh berkat, memancarkan kasih Tuhan dan jadi saluran kasih bagi sesama.
Sr. M. Paulina, P. Karm
Selasa, 27 Januari 2026
2 Sam 6: 12-15.17-19 Mzm 24: 7-10 Mrk 3: 31-35
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

