Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pemberian Anda yang Paling Berharga adalah Teladan yang Baik.”
(Dr. Geoffrey Still)
Sirnanya Figur Keteladanan
Di seluruh dunia, kita membutuhkan dan bahkan sangat merindukan figur-figur sebagai peneladan baik. Dunia telah kehilangan tokoh panutan sebagai obor api bernyala yang sudi menerangi kegelapan hidup ini. Bahkan kaum muda kita telah kehilangan arah dan jalan mereka, karena tidak memiliki figur panutan sebagai tokoh idola. Maka, kita pun serentak bertanya, “Wahai sang suri teladan, ke manakah engkau pergi?”
Boutros Boutros Ghali adalah orang pertama dari Afrika yang menjabat sebagai Sekjen PBB. Ia disanjung dan dipuja, ternyata keunggulannya itu ia peroleh dari Kakeknya Boutros Ghali senior yang adalah mantan Perdana Menteri di Mesir.
“Tuhanlah yang jadi saksi, bahwa aku telah mengabdikan segenap kemampuanku kepada negeri ini,” demikian untaian kalimat yang terukir pada nisan Boutros Ghali. Sehingga Boutros Boutros Ghali yunior sangat mengagungkan keteladanan dari sang Kakek.
Bahkan Boutros Ghali yunior berujar, “Bagi seorang anak yang tumbuh dewasa dengan teladan seperti ini menimbulkan dampak yang sangat besar.”
(Inspirasi Lima Menit)
“Componitur Orbis/Regis ad Exemplum”
“Dunia memang menunggu teladan dari pemimpinnya,” demikian seruan Claudianus. Dia memimpikan, bahwa betapa vitalnya suri teladan baik dari para pemimpin itu (orangtua, para guru, tokoh agama, dan pemerintah).
Claudianus merincikan “tiga unsur penting” sebagai ciri-ciri khas seorang pemimpin teladan.
- Ia patut menujukkan sikap kejujuran, baik kepada dirinya, kepada rakyat, dan juga kepada Tuhan.
- Ia memiliki komitmen, dengan cara melakukan yang telah dijanjikannya kepada rakyatnya.
- Ia bersikap konsisten, menunjukkan keselarasan antara kata dengan perbuatanya, antara mulut dengan tindakannya (integritas).
(Ex Latina Claritas)
Pentingnya Suri Teladan Baik
Bukankah teladan baik itu laksana seberkas cahaya, karena ia bisa menerangi jalan bagi orang lain? Dampaknya akan sangat bermanfaat bagi masyarakatnya.
Saya pun sangat mendukung pernyataan, bahwa pentingnya sikap keteladanan itu lewat sebuah adagium Latin, “Exempla potiora sunt verbis,” “Teladan lebih kuat daripada kata-kata.”
Namun realitas di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Sudahkah para pemimpin kita menunjukkan teladan baik dalam praktik kepemimpinan mereka? Untuk menjawab atas pertanyaan itu, mari kita membuka gerbang nurani dan bening mata hati kita, dengan kejujuran sejati, sudah adakah keteladanan itu? Ataukah rakyat justru dibodohi dan dikibuli dengan aneka program serta janji lewat pidato yang berapi-api semata? Mari kita serentak bertanya, “Wahai para pemimpin, ke manakah perginya suri teladanmu?”
Refleksi
“Longum Iter est Per Praecepta, Breve et Efficax Exempla”
“Melalui perintah jalannya panjang, melalui teladan jalanya pendek dan berdaya guna”
(Seneca)
Marilah kita berlomba-lomba untuk memancarkan suri teladan baik di dalam rimba raya kehidupan yang serba sulit dan kacau ini!
“Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup!”
(Yesus Kristus)
Kediri, 16 Februari 2026

