Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kasih itu menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1Korintus 13: 7)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah film yang berjudul, “Something So Right.” Saya juga memperoleh inspirasi dari sebuah buku berjudul, “Bersyukur itu Indah,” karya Ayub Yahya, Gloria Graffa.
Ada seorang anak berusia remaja awal, 10 tahun yang memiliki seorang Ayah kinestetik, pemain rugbi tenar di AS. Sungguh, anak ini sangat mengagumi figur Ayah yang hebat itu.
Namun, apa hendak dikata. Karena keluarga itu tidak bertahan lama. Suatu saat, Ayah itu meninggalkan rumah, karena sering cekcok dengan istri.
Anak remaja itu sangat terpukul dan tidak sudi menerima kondisi hancur itu. Lalu apa yang terjadi?
Si anak ini pun segera berubah menjadi sadis. Dia menjadi nanar dan liar, suka usil, dan mengganggu kenyamanan orang lain. Bahkan, dia pun dicap sebagai anak pemberontak, senang berkelahi, membolos, dan bahkan mencuri.
Sang Bunda juga sungguh terpukul dan kehabisan akal. Atas saran Kepsek, Ibu anak itu mengontak sebuah Perkumpulan Bapak Asuh, sebuah lembaga yang mempekerjakan para pria dewasa untuk mendampingi dan menemani anak-anak yang kehilangan figur Ayah.
Sepekan kemudian, datanglah Pak Ern yang berusia sebaya dengan Ayah anak itu. Namun sayang, dia bukan olahragawan, dan tubuhnya agak membungkuk. Dampaknya anak itu tidak menyukainya.
Anak itu tidak bisa dekat Ern, karena tidak menyukainya. Tapi, apa yang dilakukan Bapak Ern? Dia tetap dengan sabar dan setia mendampingi sang anak.
Setiap jam pulang sekolah, dengan setia dijemputnya anak itu. Bahkan dia rela menemaninya bermain, membelikan makanan kesukaan, dan juga selalu melindunginya kapan dan di mana pun.
Kata sang bijak, ‘sekeras-kerasnya padas, toh akan remuk juga, jika selalu ditetesi percikan airโ. Alhasil, suatu saat, anak itu bertekuk lutut kepada sang Ayah asuh ini, karena sikap sabar dan kasihnya.
Klimaks dari kisah unik itu, saat keduanya berada di sebuah taman. Saat anak itu berlari lalu memeluk erat Pak Ern. Saat itu pun Ayah asuhnya mengangkat anak itu tinggi-tinggi. Keduanya pun akhirnya tertawa bersama-sama.
Sungguh, sekali lagi, interisan kisah yang spektakuler!
Misterinya, justru karena perbuatan kasih yang diterapkan Ayah asuh kepada sang anak itu.
Santo Agustinus pun berkata, “Ama, et Fac Quod Vis!“
“Mulailah dulu dengan kasih, apabila sudah ada kasih, maka lakukanlah apa saja yang engkau kehendaki!”
…
Kediri, 31 Oktober 2023

