Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Harta warisanku di dunia ini memang hanyalah satu persen. Tapi yang sembilan puluh sembilan persen, akan diwariskan oleh Tuhan kepadaku.”
(Didaktika Hidup Kekal)
…
| Red-Joss.com | Kita hidup di atas bumi, suatu saat kelak, kita akan menerima warisan dari Ayah atas nama keluarga.
Nah, demikian pun yang terjadi dalam kisah berikut ini.
Seorang Ayah yang sangat saleh hidupnya. Ia sangat dekat dengan si sulung dan juga dengan Tuhan. Ia memiliki empat orang putra.
Putra sulungnya memiliki karakter yang sangat mirip dengan sang Ayah. Dia juga sangat dekat dengan Ayah. Sedangkan ketiga saudaranya sangat bertolak belakang. Mereka sangat suka memberontak dan selalu menuntut banyak hak di dalam hidup ini.
Setelah Ayah meninggal, Ibu lalu menghadirkan seorang notaris untuk membacakan surat wasiat peninggalan sang Ayah.
Putra keempat alias si bungsu, mendapat warisan 33 persen.
Putra ketiga, mendapat warisan 33 persen.
Demikian pun putra kedua, mendapat warisan 33 persen.
Sedangkan putra sulung, hanya mendapat 1 persen.
Maka, mereka pun terdiam sambil saling memandang. Karena mereka menduga, tentu si sulung akan mendapat warisan terbanyak.
Setelah itu, keempatnya memasuki kamarnya masing-masing.
Sang Ibu lalu memasuki kamar si sulung dan berkata, “Apakah kamu bersedih Nak, karena hanya mendapat 1 persen?”
Anak sulung itu menjawab, “Aku bersedih, bukan karena aku hanya menerima warisan sebanyak 1 persen, melainkan karena ayah, sang suri teladan handalku, telah mendahuluiku.”
“Aku mendapat warisan 1 persen, justru atas pertimbanganku bersama Ayah, agar ketiga adikku kelak tidak saling merampas harta warisan.”
“Aku, memang menerima warisan di dunia ini hanya 1 persen. Tapi kami bertiga; aku, ayah, dan Tuhan akan selalu bersama-sama. Maka, hartaku yang 99 persen itu, akan aku terima dari Tuhan.”
Mendengar jawaban yang sangat bijaksana dari si sulung, maka Ibu itu terdiam dan sangat bersyukur atas kemurahan hati dan kedekatan si sulung dengan Tuhan.
Mari kita belajar untuk hidup sadar, agar mampu membimbing dan menuntun para putra kita, agar mereka pun kelak bisa dekat dengan Tuhan.
Harta warisan terindah yang perlu diwariskan kepada anak keturunan ialah membimbing dan menuntun mereka, agar mereka juga dekat dengan Tuhan!
…
Kediri,ย 15ย Januariย 2024

