Masih banyak orang yang berprinsip: “Biarkan hidup seperti air yang mengalir.” Dulu saya juga demikian.
Ungkapan “mengalir saja seperti air” adalah sikap yang seolah “tidak punya energi.” Terlalu pasrah dan menafikan ikhtiar. Menjalani kehidupan seperti itu justru sering saya terbentur dari satu batu ke batu yang lain. Terbentur dari satu masalah ke masalah lain, seperti tak ada habis-habisnya. Tak sedikit orang yang kemudian terperangkap pada konsep ‘nasib’, ‘takdir’, sudah jadi ‘garis hidup’. Ada rasa bersalah, ketika terasa seperti gampang menyerah.
Hidup adalah anugerah dan setiap kita memiliki potensi untuk “mengarahkan” hidup ke arah yang lebih baik, agar berguna bagi dunia dan jadi alasan untuk meraih akhirat.
Kini, setelah usiaku menapak senja, saya lebih ingin jadi sumur yang berair jernih daripada air yang mengalir. Tidak ke mana-mana, tapi berada di mana-mana. Orang lain sesuka hati menimba air dari sumur hidupku yang tak pernah kering.
Mengapa? Sebab sumur hidupku terhubung dengan sumber air yang berasal dari Yesus. “Air yang Dia berikan akan memancar hingga hidup yang kekal.“ Air biasa hanya meredakan rasa haus yang sementara, tapi air yang akan diberikan Tuhan Yesus adalah Roh Kudus yang akan memberikan karunia berlimpah di dalam kasih, relasi, ibadah, dan keintiman dengan Allah.
Kita semua, umat-Nya, termasuk perempuan Samaria ini, akan terus merasakan kehausan jika tetap hidup dengan cara hidup yang lama di luar Allah.
Maka, inilah waktunya untuk terus mendekat dan hidup bersekutu dengan-Nya.
Tetap semangat berbagi terang.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

