“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” (Matius 12:20)
…
| Red-Joss.com | Ibarat lilin, hidup ini harus memiliki ‘sumbu’. Salah satu elemen penting dalam diri sebuah lilin adalah sumbu. Tanpa sumbu, lilin tidak bisa melaksanakan tugasnya. Tanpa sumbu, lilin yang cantik tidak bisa mempertahankan api, hanya meleleh dan jadi gumpalan tanpa bentuk. Sumbu menahan api dan terbakar perlahan-lahan, sehingga lilin bisa meleleh sedikit demi sedikit dan membentuk pola-pola tetesan yang menarik di sepanjang batangannya. Setelah sekian jam, lilin akan habis dan sumbunya hangus terbakar, nyala api mulai berkedip-kedip. Api itu nyaris padam.
Sumbu itu adalah harapan dalam kehidupan. Pada satu titik, kita merasa api pada sumbu itu mulai berkedip, nyaris padam. Betapa pun berusaha, kita tidak bisa menghentikan lilin itu terus meleleh. Seperti hidup ini. Ya, saat itu kita merasa tidak berdaya. Ada rasa lelah yang membuat seolah kalah.
Mungkinkah kita akan mendapatkan kekuatan baru, ketika sumbu pengharapan kita hampir padam oleh berbagai persoalan?
Tuhan adalah ‘sumbu hidup’ kita. Ketika harapan mulai padam, mendekatlah dan dengarkanlah kembali janji-Nya untuk kita: Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya.
Datanglah, mendekatlah, dan percayalah. Aku akan memberi kelegaan padamu.
Salam sehat dan bertahan untuk berbagi cahaya.
…
Jliteng

