“Sukacita itu bukan dicari, melainkan dialami dan dirasa. Bahagia itu bukan soal materi, melainkan soal mensyukuri.” – Rio, Scj.
Semua orang ingin bahagia. Tapi ukuran kebahagiaan itu berbeda-beda. Bahagia itu soal takarannya. Ada yang perlu dikurangi, ada yang perlu ditambah, sehingga takarannya pas. Sukacita dan bahagia pun kian terasa.
Lima (5) hal ini untuk merasakan sukacita dan bahagia dalam hidup.
Pertama: kurangi mengeluh, perbanyak bersyukur. Hidup ini tidak mudah, tapi hidup akan jauh lebih susah, kalau diisi dengan keluh kesah.
Datang hujan mengeluh, panas terik mengeluh, dingin mengeluh. Jika kurang komplain, kebanyakan protes. Sadari, bahwa kadang yang kita keluhkan itu diinginkan orang lain. Syukurilah, sebelum semuanya diambil dan penyesalan itu datang kemudian.
Kedua: kurangi rasa takut, tapi perbanyak mencoba. Setiap orang pasti mempunyai rasa takut. Takut gagal, ditertawakan, takut atasan, takut tampil di depan umum, bahkan (maaf) ada suami-suami takut istri.
Sesungguhnya takut itu wajar! Ia tak bisa dihilangkan, tapi dikurangi dan dikendalikan! Meski ada ketakutan, kita kita harus berani untuk maju, melakukan, dan berusaha.
Ketiga: kurangi menghakimi, tapi perbanyak apresiasi. Seseram-seramnya hakim, lebih seram itu jari nitizen +62. Kenapa zaman now susah sekali orang bahagia? Karena sebagian besar hidupnya didominasi oleh opini. Berawal dari komentar, lalu bertengkar. Sekali bebas, lalu lepas kendali. Apa saja dikomentari, akhirnya bikin sakit hati.
Lebih bijak itu kurangi menghakimi. Bila kita sibuk menghakimi dan menyalahkan, karena itu ciri pecundang. Jadilah pemenang yang selalu mencari peluang. Tidak banyak protes, tapi mau berproses.
Keempat: kurangi membenci, tapi perbanyak mengasihi. Belajarlah dari korek api. Dia punya kepala, tapi tak punya otak. Gesek sedikit saja langsung menyala, dan terbakar.
Kita mempunyai kepala dan otak bahkan mempunyai hati. So, jangan biarkan hal kecil itu membakar hidup dan kebahagiaan kita sendiri.
Kelima: kurangi bicara, tapi perbanyak usaha. Buanglah tipe rebahan yang mager alias malas gerak. Buang jauh-jauh semangat ‘NATO – no action talk only’. Ingat setiap tetes keringat dan air mata yang jatuh itu tidak penah sia-sia.
Jangan lupa, selalu bersukacita dan bahagia.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

