Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Musim demi musim pergi dan datang silih berganti, semua berlangsung sesuai siklus alam.”
(Amanat Kearifan Hidup)
…
Sesuai Siklus Alam
Musim demi musim pergi dan datang silih berganti. Hal itu berlangsung sesuai dengan siklus alam. Di negeri kita, Indonesia hanya mengenal dua musim, yakni musim kemarau dan musim penghujan.
Antara: Cercaan dan Syukur
Tulisan ini saya bagikan, karena terdorong oleh pergolakan nurani saya atas sikap dan reaksi kita. Antara sikap manusia yang merasa bersyukur dan yang mencerca di kala musim penghujan tiba.
Saya mendengar banyak keluhan manusia di saat musim hujan. Ada rentetan keluhan dan cercaan, karena kita merasa, bahwa hari hujan itu berdampak menghalangi aktivitas. Kita berpendapat, bahwa hujan itu mengganggu dan merugikan.
Deretan Cercaan
“Hujan lagi, hujan, hujan, terus saja hujan, kapan berhenti!”
“Bosan, hujan terus!”
“Tuhan, tidak kasihan kepada kami, karena semua rencana jadi terganggu akibat ulah hujan!”
Deretan Syukur
Seorang petani tampak sedang mengatupkan kedua tangannya sambil menutupkan matanya, ia bersyukur, karena hujan.
“Betapa indahnya rerumputan di halaman rumahku. Syukur Tuhan atas hujan yang melimpah ini!”
“Di saat hujan turun adalah kesempatan terbaik bagi para petani untuk menanam benih di ladang!”
Inilah deretan atau rentetan berupa cercaan atau rasa syukur dari manusia di kala musim penghujan tiba.
Ternyata manusia memiliki dua buah reaksi yang serba kontradiktif, karena justru saling berseberangan.
Tidak Memihak pun Menolak
Ada pun ujud dari tulisan ini, penulis tidak bertujuan untuk memihak / menyetujui dan juga menolak salah satu dari kedua reaksi spontan itu.
Penulis hanya memosisikan dirinya untuk tetap berada di tengah-tengah kedua reaksi yang berbeda itu.
Namun, di balik itu penulis bertujuan agar manusia sudi membuka mata kesadarannya, bahwa inilah reaksi bebas manusia di kala menghadapi sebuah kondisi tertentu.
“Suatu Hari di Musim Hujan.” Apa yang sesungguhnya yang terjadi di suatu hari hujan?
Ya, itulah tabiat unik manusia. Si ajaib yang selalu sulit untuk ditebak, apa maunya!
Bukankah dia adalah si misterius yang paling misterius?
Kini, kian sadar dan pahamlah kita, bukankah “1+1” ternyata tidak selalu berarti “dua” jawabannya!
Ah, ternyata manusia itu adalah sebuah teka-teki yang tak ada jawaban finalnya!
…
Kediri, 17 Januari 2025

