Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Suara-suara senyap alias suara-suara yang tidak terdengar (inaudible sound), adalah suara- suara yang tidak diacuhkan atau tidak dipedulikan. Suara-suara itu justru dianggap tidak bermakna alias tidak berarti bagi pihak-pihak tertentu. Bahkan suara-suara itu dianggap mengganggu, karena mereka tidak berwenang untuk mengangkatnya. Mereka itu tidak selevel alias tidak setaraf.
Suara-suara yang tidak terdengar itu milik siapa? Itulah suara pihak, orang, atau kelompok yang dianggap sebagai rakyat jelata. Suara orang yang terbuang, terkucil, tertindas, dan kaum marginal di dalam masyarakat.
Bayi-bayi tidak berdosa yang dilahirkan atas nama nafsu liar, biasanya akan segera dibungkam atau dicekik. Suara rakyat jelata yang tanahnya dicaplok demi meluaskan areal pertanian si kaya. Atau juga suara para pegawai kecil yang dituduh korupsi uang milik negara. Pada saat yang sama, suara mereka dibungkam dengan aneka cara. Tujuannya demi mengaburkan dan menggelapkan perbuatan salah dari pihak yang berkuasa atau orang penting.
Di dalam konteks ini, sejatinya telah terjadi penindasan yang sewenang-wenang demi menutup aib pihak yang sedang berkuasa.
Padahal, sesungguhnya, tidak pernah ada secuil suara yang mampu dibungkam alias dibungkus kardus kepalsuan. Bahkan suara-suara itu akan berkumandang lebih keras dari atas atap rumah. Karena akan tiba saatnya, semua aib itu akan terucap, terbongkar, dan terang benderang.
“Semua yang busuk, tentu akan tercium bau menyengatnya.โ
Masih ingatkah suara teriakan dan tetesan darah Habel, yang akhirnya sampai juga ke telinga Tuhan?
“Kain, Kain, di manakah saudaramu?” tanya Tuhan.
“Apakah aku ini penjaga saudaraku?” jawab Kain.
Seraut wajah kebohongan akan mencuat ke permukaan, sebenderang cahaya mentari!”
…
Kediri, 7 Oktober 2023

