Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku mengutus kamu
ibarat domba di
tengah-tengah serigala.”
(Seruan Yesus Kristus)
Realita Menantang, jika Berani Melawan Arus
“Jika di dalam hidup ini Anda selalu berani untuk melawan arus besar, maka bersiap-siaplah untuk menghadapi realitas menantang.” Inilah seruan yang akan Anda terima, jika Anda berani hidup dengan cara melawan arus umum.
Jika memang demikian risikonya, apa yang perlu Anda lakukan?
Untuk menjawab tantangan yang menghujam dada sadar ini, maka hal yang paling dibutuhkan ialah Anda harus bersikap berani.
Sejarah telah Membuktikan
Bukankah di dalam arena kehidupan ini, kita telah memiliki sejumlah pahlawan, sejumlah Santo dan Santa, segudang martir, serta para pembela kebenaran? Mereka telah menunjukkan jalan keberanian itu dengan siap untuk bermati sahid: rela dibakar, digantung, ditembak, dipanah, dicincang, dan bahkan disalibkan.
Mengapa bisa terjadi demikian dan dari mana datangnya sikap keberanian yang telah melewati batas nalar seorang manusia itu?
Masih ingatkah kita, keberanian dan kegilaan filsuf Socrates (339 SM) yang rela meminum segelas racun, karena dituduh telah menyesatkan kaum muda Athena?
Juga masih ingatkah kita pada gigihnya perjuangan lewat cara anti kekerasan alias Ahimsa dari Mahatma Gandhi?
Juga masih ingatkah kita pada kegigihan para Santo dan Santa sebagai martir yang rela mati lewat aneka cara sadis?
Mereka Berani demi Mempertahankan Kebenaran
Dari manakah datangnya sikap keberanian mereka? Bukankah di atas dan di balik fakta pahit yang mereka hadapi itu justru mereka berani bersikap untuk menantang serta melawan arus besar?
Jadi, mereka adalah pribadi agung yang memiliki pikiran dan prinsip-prinsip hidup sendiri demi membela serta mempertahankan kebenaran sejati.
Mulut, tangan, kaki, dan pikiran mereka telah tunduk pada kekokohan batin demi mempertahankan kebenaran sejati itu.
Sebaliknya, jika Anda itu seorang pemikir besar, agamawan tulen, idealis sejati, atau sebagai pembela kemanusiaan; namun justru bersikap diam dan nrimo, apatis, serta takut hanya demi kenyamanan hidup Anda, maka sesungguhnya, Anda tidak memiliki kontribusi apa pun pada kemanusiaan.
Konklusi
Maka, apakah jasa dan kontribusi Anda bagi kehidupan sejati, jika Anda ternyata takut untuk bersuara lantang?
“Kamu pun akan jadi saksi-Ku hingga ke ujung dunia,” sabda Yesus.
Kediri, 13 April 2025

