Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Tegakkanlah suara sang kebenaran dan spirit sang keadilan.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Penyambung Lidah Tuhan
Tuhan telah mengutus para Nabi dan Rasul sejak dari zaman purba kala sesuai dengan niat suci dan rencana agung-Nya.
Lewat lidah tulus dan teladan kebajikan, mereka telah setia mewartakan kabar sukacita itu kepada kita para pengikut mereka.
Suara Sang Kebenaran
Sang Pengkhotbah sejati hanya akan menyuarakan suara dan kehendak Tuhan sesuai kabar yang mereka terima dari para utusan Tuhan.
Mereka penyambung lidah suci Tuhan. Untuk dapat meraih tujuan luhur dan cita-cita mulia itu, tentu mereka perlu menyelaraskan niat-niat serta kehendak mereka dengan kehendak suci Tuhan. Karena bukankah mereka itu hanyalah alat atau sarana?
Dalam konteks semulia dan seluhur ini, tentu sangat dibutuhkan sosok-sosok pribadi dijiwai oleh spirit suci dari Tuhan.
Senjata Pamungkas
Sungguh, tidaklah gampang untuk menjadi penyambung lidah Sang Kebenaran sejati. Mereka, tentu sangat memerlukan dan memiliki sejumlah senjata pamungkas sebagai kekuatan yang tidak ada duanya.
Itulah senjata iman dan kebajikan suci. Itulah sikap-sikap: ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, dan sikap rendah hati sejati.
Bagaimana mungkin mereka dapat menyuarakan suara Sang Kebenaran sejati, jika ternyata mereka adalah pribadi-pribadi yang angkuh, besar kepala, pencemburu, pembohong, pemfitnah, dan pemecah belah kesatuan?
Untuk layak jadi sebagai corong Sang Kebenaran sejati yang berperan sebagai seorang penyambung lidah Tuhan, tentu dibutuhkan sifat-sifat: kesetiaan, ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesucian.
Seorang pewarta iman yang sejati itu harus benar-benar menyuarakan suara Tuhan dan bukan menyampaikan ambisi personal serta demi mencari dan meraih popularitas diri.
Jadi Sahabat Sejati
“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Aku kehendaki.”
(Demikian himbauan dari Tuhan kepada kita para pengikut-Nya).
“Mulai sekarang, kamu tidak Kusebut hamba lagi, melainkan saudara. Karena seorang hamba tidak tahu apa yang dilakukan Tuannya.”
“Berbahagialah orang-orang yang suci hatinya, karena mereka pun dapat memandang Allah!”
(Sabda Bahagia)
In Te Confido!
…
Kediri, 5 Januari 2024

