“If you can do more, why not do more.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Tekanan hidup, tuntutan kerja, deadline, dan ambisi kadang membuat kita stres dan mengalami tekanan hebat.
Ada tiga dimensi yang menjadi tanda seseorang mengalami keadaan stres kronis.
Pertama: exhaustion, artinya kelelahan, lemah, kekurangan energi secara fisik maupun emosional.
Kedua: cynicism atau depersonalisasi, saking capeknya dan beratnya beban hidup, mulai ada perilaku dan ‘mindset’ negatif kepada orang lain. Mudah marah, kesel, tidak ingin bersosialisasi, bahkan idealisme pun hilang.
Ketiga: inefficacy, produktivitas atau pencapaian yang menurun. Kepercayaan diri dalam bekerja hilang.
Mungkin kita pernah mengalami satu dari tiga hal itu. Yang berbahaya adalah saat ketiganya terjadi bersamaan dan dibiarkan saja. Karena stres kronis adalah effek jangka panjang dalam situasi kerja dan hidup yang menekan.
Christina Maslah seorang yang meneliti konsep stres kronis pernah mengadakan penelitian; Stanford Prison Experiment. Dalam eksperimen ini beliau menyebut enam area penyebab stres kronis: “workload, control, reward, community, fairness, values.” Untuk kita yang berada di situasi kerja yang extrim, di mana kerja menuntut emosi dan pemikiran tinggi. Rentan mengalami stres kronis.
Tahun 2019, WHO memasukan stres kronis sebagai klasifikasi penyakit yang berkontribusi pada kesehatan mental. Bukan soal capek atau stres, tapi efek jangka panjangnya. Sampai saat ini stres kronis masih menjadi pusat perhatian dalam bisnis maupun psikologi. Karena makin banyak inovasi yang membantu bekerja lebih efektif. Makin banyak inovasi, maka makin banyak kerja. Inovasi bertambah, kerja nambah lagi.
Masa pandemi ini pun, ada bahaya ‘neverending growth’. WFH (Work from home) belum tentu mengurangi stres kronis. Perubahan ini menuntut kita untuk berpikir lagi tentang batasan ‘our work self’ dengan ‘our self’.
Stop stres kronis! Lakukan tiga hal ini:
Pertama: ‘Quality time for relexs’. Ambil waktu untuk rekreasi, releks, dan istirahat. Tubuh tak bisa dipaksa kerja, kerja dan terus kerja. Butuh waktu istirahat, releks, dan rekreasi. Saat inilah emosi diperbaharui, semangat bangkit lagi, tenaga dipulihkan.
Kedua: perbanyak doa. Ini mungkin tidak relevan, namun dayanya luar biasa amat besar. Doa menenangkan hati, doa menyegarkan jiwa. Kalau tubuh butuh makan, jiwa pun butuh asupan. Relasi dengan Tuhan akan memperbesar rasa syukur dan kesejukan jiwa. Jangan khawatir kehilangan berkat bila doa kuat. Justru makin banyak berkat didapat.
Ketiga: upgrading. Segarkan diri, dengan selalu updating. Segarkan pikiran dengan pengetahuan agar pikiran tak jadi mandeg dan bolot.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

