“Kita tidak berhak menghakimi orang lain, kecuali untuk mengasihinya.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Karena itu, ketika seorang teman menunjukkan video pejabat publik yang kontroversial antara kata dan perbuatan, saya tidak berkomentar atau menanggapinya, kecuali tersenyum.
Alasan saya tidak menanggapinya itu sederhana. Saya tidak kenal dengan pejabat publik itu. Juga tentang maksud dan tujuan dari sikap dan pernyataannya. Jika dinilai kontroversial itu dari sudut mana dan apa dasarnya?
Faktanya, terhadap teman, atau bahkan dengan pasangan hidup sendiri, ternyata kita sering keliru menilai dan salah paham. Kita belum mampu mengenalinya luar dan dalam dengan baik. Karena kita sering tertipu dengan aksesoris yang dikenakan!
Jadi maaf, saya tidak mau menilai atau menghakimi orang lain yang bukan domain saya. Saya tidak mau mencemari dan meracuni hati sendiri dengan pikiran buruk, negatif, dan penilaian salah tentang orang lain. Karena hal itu tidak hanya permalukan diri sendiri, tapi juga memperkeruh situasi.
Jika tidak sependapat dengan hal buruk dan negatif, kita tidak harus nyinyir dan makin membuat gaduh situasi.
Lebih bijak, menahan dan kontrol diri. Untuk dipilih dan dipilah antara yang baik dengan yang buruk. Jika yang buruk, jelek, dan negatif itu untuk dibuang. Sedang yang baik dan positif itu untuk dikelola dan dibagikan agar bermanfaat bagi sesama.
Hidup bermanfaat bagi sesama itu yang harus direfleksikan agar jadi nafas hidup kita. Karena, “Hidup tanpa direfleksikan itu tidak layak dihidupi,” kata filsuf Socrates.
Selain itu, menilai secara obyektif itu juga tidak mudah, karena harus didasari kerendahan hati. Jika kita tidak bisa memberi solusi, apa pun akar masalahnya, lebih baik kita diam dan tidak bernarasi atau nyinyir agar tidak meracuni hati sendiri dan perkeruh situasi.
Saatnya kita membiasakan disiplin berpikir jernih agar tidak cemari dan meracuni hati sendiri.
Ketimbang menghakimi, lebih bijak kita belajar untuk memahami orang lain. Hidup saling mengasihi (Matius 22: 39) agar hati kita dipenuhi damai, sukacita, dan bahagia.
…
Mas Redjo.

