“Jangan membiasakan diri untuk membuka aib orang lain, karena aib kita juga tidak mau ditelanjangi di depan banyak orang.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Mendidik mulut itu penting, tapi jauh teramat penting dan bijaksana itu orang yang sadar diri dengan keberadaannya.
Jika setiap kali berbincang dengan teman lalu diajak bergosip-ria, saya segera membatasi diri, diam, atau pergi menyingkir. Alasan saya sederhana, jika teman itu tega menjelekkan orang lain, bisa jadi di belakang, ia juga tega menjelekkan saya.
“Maaf, lebih baik kita bicara soal lain,” kilah saya, setiap kali diajak bergosip ria dengan siapa pun. Selain tidak berguna, saya tidak mau diracuni imeg buruk terhadap orang lain, lalu timbul antipati, dan apalagi untuk ikut-ikutan bersikap tidak senang atau membencinya.
Sesungguhnya, apa untungnya kita menjelekkan atau membuka aib orang lain? Juga apa keuntungan orang yang diajak bergosip itu? Apa karena pernah dilukai, kita ingin membalasnya?
Jangan beranggapan, karena yang bercerita itu orang penting, berkompeten, atau dari lingkungan ‘dalam’, sehingga berita itu dipercaya keakuratannya.
Jangan mudah percaya pada berita yang konon kabarnya, ‘jarene’, asumsi murahan, tidak miliki bukti dan juntrungannya. Karena kita bisa dianggap melakukan hal/perbuatan tidak menyenangkan atau memfitnah, dan akibatnya suloyo.
Jika berita tentang keburukkan orang itu benar dan valid, apakah kita mau jadi penyambung lidah beracun? Apa untungnya untuk kita sendiri?
Jika kita mengetahui kecurangan seseorang yang didasari data dan bukti yang akurat, serta orang itu merugikan kita, toh kita bisa kroscek dan bertanya secara langsung.
Jika merugikan banyak orang, kita bisa menyampaikan ke atasan atau aparat yang berwenang. Kita menggunakan jalur yang benar dan kita juga siap dengan segala konsekuensinya.
Saatnya kita belajar mendidik mulut ini dan bijak bersosmed agar kita tidak merugikan orang lain atau mencelakakan diri sendiri.
…
Mas Redjo

