| Red-Joss.com | Sabtu, 3 Agustus 2024, bersatu dengan para terundang pada pemberkatan rumah baru (renov) seiring dengan dibaharuinya temali kasih, HWA 21 tahun. Keren, sambutan hanya derai airmata dan senyum, namun sudah lebih dari cukup daripada untaian kata-kata manis yang tak bernas.
Homili diawali dengan: “Siapa pun yang masuk rumah ini harus membawa damai.”
“Wah, pas” pikirku. Sayang tidak lanjut dengan frasa itu.
Pernah mendengar istilah “stonewalling?” Adalah gaya komunikasi membatu seperti tembok, yang sangat berbahaya dalam hidup bersama, terutama dalam keluarga, juga lingkungan atau komunitas yang lebih besar seperti Paroki.
John Gottman, dalam “What Predicts Divorce?”menyebut ada 4 penyebab perceraian, yaitu ‘stonewalling’, penghinaan, kritik, dan sifat defensif.
Dari keempatnya, Gottman berpendapat sebab terbesar dari hubungan yang gagal yaitu penghinaan. Sebab akan bermuara jadi kata yang negatif.
Contohnya, terus-terusan menyela perkataan pasangan dengan tidak sopan. Indikasi, bahwa pasangannya itu tidak memiliki sesuatu yang menarik atau penting untuk dikatakan.
Ketika perilaku, menghina, merendahkan menjadi lebih sering terjadi, relasi apa pun, apalagi pernikahan, berada dalam bahaya.
Penghinaan akan membuat pasangan tidak merasa ada ‘support’ di antara keduanya. Sebab, yang awalnya mitra akan terasa sebagai musuh. Ketika penghinaan seperti itu mewarnai komunikasi di lingkungan atau Paroki akan muncul komunikasi tandingan yang bernama ‘stonewalling’, gaya membatu kaya tembok. Bentuknya macam-macam, diam dan kabur dari rumah, lingkungan atau Paroki. Jika seperti itu memang sakit sekali. Mungkin benar juga adagium yang mengatakan “apa yang kau tanam itulah yang kau petik.” Jika pisang kau tanam, kau petik pisang. Bila batu ditanam, panennya ‘stonewalling’.
Untuk menghindari bentuk komunikasi menghina yang begitu, caranya apa?
Mari kita cari bersama jawabnya. Hujan malam ini membawa berkah, hening dan beningnya hati.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

