“Seberat-beratnya beban hidup, lebih berat itu beban jiwa, ketika kita tidak berani berdamai dengan diri sendiri.”
…
| Red-Joss.com | Stop egois!
Peringatan itu tidak sekadar saya ucapkan, tapi saya tindak lanjuti untuk diwujudnyatakan.
Bukan hal mudah, melainkan harus diterapkan dalam hidup keseharian. Harus dilatih secara kontinyu agar saya mampu mengendalikan diri untuk bersikap tenang dan berpikir jernih.
“Merespon dengan hati,” semangat itu dikedepankan agar saya tidak mudah tersulut emosi, apa pun situasi dan kondisi yang dihadapi.
Berani mengalah untuk mendulukan kepentingan orang lain dan memahaminya adalah langkah bijak agar kita menjadi pribadi yang rendah hati.
Kita tidak harus berkonflik, ketika antrian di supermarket diserobot orang lain. Kita tidak harus bersitegang di jalanan, ketika jalan kita diserobot atau dipotong oleh pengendara lain.
Kita mengalah dengan cara berpikir positif. Bisa jadi orang menyerobot antrian atau bersicepat di jalanan yang ramai itu, karena mereka ada keperluan penting dan mendesak.
Dengan belajar untuk mendulukan kepentingan dan memahami orang lain itu, kita tidak temperamental, tapi menjadi pribadi yang sabar, tenang, dan selalu eling lan waspada.
Begitu pula saat kita dicemooh, dihina, dicurangi, disakiti, atau bahkan difitnah orang lain. Kita tidak merespon negatif dan membalas perlakuan mereka. Tapi kita tetap tenang, sabar, tabah, dan memaafkan orang itu.
Ingat dan teladani Yesus yang telah menebus dan menyelamatkan kita. Yesus yang pengasih dan murah hati. Bahkan Ia mengampuni dan mendoakan orang-orang yang menyalipkan-Nya.
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23: 34).
Selalu mohon rahmat kerendahan hati agar Allah limpahi kita damai sejahtera dan bahagia.
…
Mas Redjo

