“Change yourself first before blaming others.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Salah satu kecenderungan manusia yang tak lekang oleh waktu adalah blaming alias selalu menyalahkan. Hari panas, Tuhan yang disalahkan. Hujan dan dingin, Tuhan juga disalahkan. Menganggur keadaan yang disalahkan. Banyak pekerjaan atasan disalahkan. Suami fokus bekerja disalahkan. Istri bawel, disalahkan. Anak sering ke luar rumah juga disalahkan. Salah, … salah dan selalu salah.
Tiga (3) hal yang diingat saat kita disalahkan:
Pertama: “stay patient.” Sabar, … dan bersabar. Marah, tidak merima, dan membela diri saat disalahkan itu manusiawi. Tapi lebih bijaksana adalah bersabar, mengalah bukan berarti kalah. Manusia pasti pernah salah. Bahkan orang yang menunjuk muka dengan telunjuk jari dan menyalahkan kita pun pernah salah dan mempunyai kesalahan. Aristotles bilang “Patience is bitter, but its fruit is sweet.” Bersabar itu memang pahit, tapi berbuah manis.
Kedua: “listening and be humble person.” Saat kita disalahkan, entah memang kita layak disalahkan karena kesalahan yang dibuat atau kita tidak bersalah. Dengarkan dengan rendah hati, tanpa membela diri, tanpa menghakimi, tapi dengarkan dengan hati. Di sini kamu menata diri, menyesali dan memperbaiki diri. Sulit memang, tapi yang sulit bukan berarti mustahil dilakoni.
Ketiga: ”Keep going, be good person.” Komentar itu selalu ada. Para heaters itu mencari kesalahan. Orang yang tidak suka pasti ada. Ingatlah, tidak mungkin kita bisa menyenangkan semua orang. Komentar, kritikan, heaters, dan pencari kesalahan akan selalu ada. “Keep going and doing good things” ini yang terpenting.
Meski kebaikanmu dibalas dengan hinaan, cercaan, cacian, kecurigaan bahkan penghianatan. Tetaplah berbuat baik. Meski komentar, cap dan penghakiman ada di jalan. Tantangan itu dijadikan peluang untuk membagikan berkat kebaikan Tuhan. Tidak semua hari baik, tapi selalu ada hal baik setiap harinya.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

