“Kita bukan corong aib, melainkan corong kasih. Jadilah rendah hati dan bijaksana!” -Mas Redjo
Hal-hal buruk dan negatif yang diterima itu tidak harus untuk dibagikan dan diteruskan kepada orang lain. Lebih bijak, stop! Berhenti di kita.
Sekali lagi, yang harus diingat. Kita ini bukan corong aib atau penyebar dendam, kebencian, permusuhan, dan menghasut orang lain.
Jangan miliki anggapan, karena berita miring itu news dan benar, sehingga kita memviralkan untuk meneruskan dan membagikan kepada orang lain.
Apa untung dan manfaatnya bagi kita dan orang lain? Kita senang, jika orang lain terhasut, lalu timbul perpecahan, permusuhan, dan dendam?
Jangan pula kita miliki anggapan. Bahwa kebenaran itu harus dibela dan diwartakan? Kita melihat hal itu dari kacamata mana? Sejatinya kebenaran itu tidak membutuhkan pembelaan, karena kebenaran itu milik-Nya.
Alangkah bijak, jika postingan atau berita itu ditelaah dengan pikiran waras dan hati jernih. Hal-hal baik dan positif itu untuk diteruskan dan dibagikan. Sedang yang buruk dan negatif itu berhenti di kita.
Kita bukan provokator yang mencari keuntungan di air keruh. Melainkan kita adalah corong kasih untuk menyembuhkan mereka yang sakit, memulihkan jiwa yang remuk rendam, dan menyatukan mereka yang tercerai berai.
Apa pun berita atau postingannya, baik dari pejabat, publik figur, cerdik cendekia, dan tokoh hebat itu tidak menjamin kebenaran mutlak yang harus dituruti dan diikuti.
Kita tidak harus panas hati, ketika dianggap tidak solider atau setia kawan, sehingga dilecehkan dan dihina oleh mulut-mulut nyinyir itu.
Kita harus komitmen, konsekuen, dan konsisten untuk berbagi serta meneruskan hal-hal baik dan positif untuk mencerahkan sesama. Karena kita adalah corong kasih Tuhan.
Takut akan Tuhan adalah jalan kebijaksanaan agar kita rendah hati. Hidup saling mengasihi dan berkenan bagi kemuliaan-Nya.
Mas Redjo

